![]() |
| Lingusitik Historis Komparatif Bahasa Simalur (Prof. Dr. Soepomo) |
Warta-Simoeloel | Klasifikasi terhadap bahasa bahasa daerah di Indonesia secara geografis yang tercatat dalam sejarah ilmu bahasa komparatif adalah klasifikasi yang dilakukan oleh SJ Esserdalam “Atlas van Tropisch Netherland”(1936). Pengertian Indonesia yang dimaksudkan oleh Esser itu berbeda sama sekali dengan pengertian Indonesia seperti yang dikemukakan oleh Gleason, Bloofiled, von Humboldt, maupun Schmidt. Bahasa-bahasa Indonesia yang dimasukkan oleh Esser adalah Bahasa-bahasa yang ada di wilayah bekas jajahan Belanda atau yang pada saat itu dikenal dengan sebutan Hindia Belanda. Wilayah ini sekarang wilayah menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jadi yang dimaksud dengan bahasa-bahasa Indonesia menurut Esser ini adalah bahasa daerah yang berada di wilayah Republik Indonesia, yang membentang dari Sumatera sampai ke Irian Jaya. Karya Esser tersebut dikerjakan selama ia bertugas di Sulawesi. Adapun klasifikasi secara geografis versi Esser ini adalah pengelompokan bahasa-bahasa Indonesia atas 17 kelompok sebagai berikut:
![]() |
| Salinan Halaman Buku Prof. Soeparno tentang Jumlah Bahasa di Sumatera |
Penjelasan Prof. Soeparno berdasarkan tulisan Esser bahasa di Simeulue ia menyebutnya dengan bahasa Simalur dan memiliki dialek Lekon, Tapah, dan Simalur.
B. PENDEKATAN DALAM TELAAH BAHASA
Dalam menelaah suatu bahasa kita dapat menggunakan beberapa macam pendekatan. Dengan menggunakan pendekatan yang berbeda sudah barang tentu hasil yang diperoleh pun akan berbeda pula. Bahkan ada pula yang membedakan satu dengan yang lain. Secara prinsip kita dapat membedakan adanya tiga macam pendekatan, yaitu pendekatan sinkronik, pendekatan diakronik, dan pendekatan pankronik.
I. Pendekatan Sinkronik
Pendekatan sinkronik pada dasarnya adalah pendekatan dalam telaah bahasa yang menggunakan prinsip "kesejamanan", Pendekatan ini melandasi telaah bahasa yang dilakukan pada suatu saat tertentu, atau pada suatu saat perkembangan tertentu. Corak linguistik yang dihasilkan oleh pendekatan ini dinamakan "Linguistik Sinkronis" atau "Linguistik Deskriptif'. Linguistik semacam ini hanya berbicara berdasarkan kenyataan yang ada pada saat itu saja. Dengan demikian telaahnya benar objektif, berdasarkan fakta. Hal-hal yang tidak ada dalam kenyataan sama sekali bukan bidangnya. Sesuatu yang berbau sejarah atau dongeng tentaug bahasa merupakan hal yang tabu. Prinsip mereka itu tercermin dalam parodinya yang berbunyi: "Descibe the facts, all the facts and nothing but the facts" (Nida, 1974:20). Oleh karena faktor historis dikesampingkan, orang menilainya sebagaisesuatu hasil telaah yang objektif, akan tetapi ketuntasan analisis kadang-kadang hanya dibatasi oleh korpus tertentu. Hal semacam ini sebenarnya apabila kita lihat dari segi hakikat belum merupakan suatu ketuntasan. Pengabaian latar belakang kebahasaan juga membantu kita untuk mengetahui hal-hal lain di luar yang tampak pada saat itu. Dengan demikian linguistik sinkronis laksana potret seseorang pada saat tertentu. Dalam potret kebetulan bagus, akan tetapi belum tentu dalam kenyataannya juga bagus. Apabila kita berbicara masalah kosa kata dalam bahasa Indonesia dan kita konsekuen dengan pendekatan ini, maka tidak akan ada istilab "kata-kata Indonesia yang berasal dari bahasa asing". Dari mana asalnya tidak penting, yang penting adalah pada saat ini kata-kata tersebut tergolong kata-kata dalam bahasa Indonesia atau bukan.
II. Pendekatan Diakronik
Pendekatan ini bertolak belakang dengan pendekatan sinkronik. Apabila pendekatan sinkronik menggunakan prinsip kesejamanan, maka pendekatan uu menggunakan prinsip ketaksejamanan, jadi bersifat kesejarahan. Telaah bahasa yang menggunakan pendekatan ini akan menelaah bahasa dengan cara mengikuti perkembangan bahasa dari masa ke masa atau dari jaman ke jaman. Pendekatan semacam ini akan melahirkan corak linguistik tertentu yang biasa dinamakan Linguistik Historis. Kelebihan telaah dengan cara ini ialah bahwa basil yang diperoleh bukan hanya merupakan hasil pernotretan sesaat saja, akan tetapi merupakan garnbaran yang kornplit yang menyeluruh mengenai bahasa tersebut; dan juga tidak hanya terbatas pada korpus tertentu. Namun untuk memperoleh basil yang dernikian bukan merupakan hal yang mudah, atau bahkan hampir tidak mungkin akan dapat sempurna. Sebab yang paling pokok ialah karena tidak seimbangnya umur manusia sebagai si penelaah dan umur bahasa sebagai si tertelaah. Perkembangan atau perubahan suatu bahasa memerlukan waktu yang lama, dalam jangka waktu puluhan tahun saja mungkin perubahan beJum begitu tampak. Kebanyakan perubahan atau perkembangan itu baru menarik setelah ratusan tahun. Oleh sebab itulah unsur rekaan merupakan senjata yang ampuh untuk melengkapi teorinya; sehingga sering diceJa orang karena tidak berpijak pada kenyataan.
III. Pendekatan Pankronik
Pendekatan ini merupakan paduan antara pendekatan sinkronik dan diakronik. Kelihatannya mustahil dua pendekatan yang secara prinsip berlawanan untuk dirangkum menjadi satu, akan tetapi kenyataannya Labov dalam penelitiannya tentang perubahan bahasa telah membuktikan hal tersebut, sepert:i yang dikemukakan Chambers & Trudgill ( 1980). Penelitian tersebut dilakukan pada suatu saat tertentu (secara sinkronik) terhadap berbagai kelompok umur. Setiap kelompok umur tersebut diambil masing-rnasing sebagai wakil dari jamannya. Misalnya, usia di atas 60 tahun dianggap sebagai wakil pemakai bahasa masa yang telah lewat, usia sekitar 40 tahun dianggap sebagai wakil pemakai bahasa masa kini, dan kelompok usia dua puluh tahun ke bawah dianggap sebagai wakil pemakai bahasa masa yang akan datang. Dengan cara sinkronik itu ternyata dapat memperoleh kesimpulan yang sifatnya kesejarahan. Dengan membandingkan berbagai kelompok umur pada suatu saat tertentu ternyata dapat diketahui perkembangan dan perubahan bahasa tersebut pada masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Dengan diketahuinya bahwa kelompok umur yang satu berbeda dengan kelompok umur yang lain, dapt disimpulkan bahwa telah terjadi perubahan bahasa atau perkembangan bahasa.
B. Metode Komparatif
Metode komparatif adalah suatu metode dalam telaah Bahasa dengan jalan membandingkan bahasa satu bahasa yang lain. Unsur-unsur yang diperbandingkan meliputi berbagai bidang, bidang fonologi, morfologi, sintaksis, rnaupun bidang vokabuler. Metode komparatif ini dapat bersifat sinkronik maupun diakronik. Metode ini bersifat sinkronik apabila bahasa yang diperbandingkan adalah bahasa-bahasa yang sejaman, misalnya antara bahasa Jawa, bahasa Sunda, dan bahasa Madura pada saat ini. Metode ini bersifat diakronik apabila bahasa-bahasa yang diperbandingkan tidak sejaman, misalnya antara bahasa-bahasa Jawa Kuna, bahasa Jawa Pertengahan, dan bahasa Jawa Baru. Berdasarkan tujuannya metode komparatif ini dapat menghasilkan dua macam corak linguistik, yaitu linguistik komparatif dan linguistik Kontrastif. Linguistik komparatif adalah suatu corak linguistik yang memperbandingkan bahasa satu dengan bahasa yang lain dengan tujuan untuk mengetahui persamaan Bahasa bahasa tersebut. Persamaan-persamaan yang ditemukan itu selanjutnya dipergunakan untuk menentukan perkerabatan Bahasa bahasa yang diperbandingkan itu, atau lebih lanjut lagi untuk menentukan bentuk-bentuk rekonstruksian suatu bahasa purba. Adapun linguistik kontrastif agak berbeda sedikit tujuannya dengan linguistik komparatif. Tujuan linguistik kontrastif adalah untuk menentukan perbedaan bahasa satu dengan yang lain. Walaupun linguistik komparatif dao linguistik kontrastif mempunyai tujuan yang berbeda akan tetapi secara keseluruhan keduanya dapat digolongkan dalam satu lingkup, yakni lingkup linguistik komparatif. Di dalam memperbandingkan bahasa satu dengan Bahasa lain tidak semudah seperti yang kita bayangkan, akan tetap banyak sekali kendala-kendala yang ditemukan. Adanya kendala-kendala tersebut sebenarnya sekaligus mencerminkan kelemahan metode komparatif tersebut.
Adapun kendala-kendala tersebut antara lain sebagai berikut ini:
- Adanya beberapa bahasa tertentu yang tel ah berkembang sedemikian rupa sehingga sudah sangat berbeda sekali dengan aslinya. Kenyataan semacam ini tidak jarang yang menyesatkan para peneliti.
- Adanya beberapa bahasa tertentu yang sudah mati atau sudah punah sebelum sempat didokumentasikan. Beberapa bahasa Indian dan bahasa-bahasa pribumi di Australia banyak yang sudah punah sebelum dijamah oleh para peneliti. Bagaimana mungkin kita dpat mengelompokkan bahasa-bahasa yang tidak ada dokumentasinya/ tidak ada datanya.
- Adanya faktor pengaruh mernpengaruhi antar bahasa satu dengan bahasa yang lain. Hal ini juga sering menyesatkan para peoeliti. Misalnya ada beberapa bahasa yang mempunyai banyak persamaan, akan tetapi ternyata persamaan-persamaan tersebut merupakan pengaruh dari bahasa lain.
C. PENGELOMPOKAN BAHASA DUNIA
Berbicara masalah pengelompokan sebenarnya tidak berbeda dengan berbicara masalah pernisahan atau penyebaran. Apabila kita berpola pikir dari atas ke bawah, maka proses yang terjadi adalah pemisahan atau penyebaran; sedangkan apabila k:ita berpola pikir dari bawah ke atas, maka proses yang terjadi adalah pengelompokan. Untuk memudahkan pembicaraan kita pakai istilah "pengelompokan" yang mewakili keduanya.
Penyelidikan sebara komparatif terhadap bahasa-bahasa di dunia telah berhasil menernukan dan menentukan apa yang disebut "perkerabatan bahasa". Perkerabatan bahasa yang dimaksudkan itu adalah pengelompokkan bahasa secara genealogis atau berdasarkan garis keturunan. Di sini bahasa diibaratkan seperti rnanusia yang mernpunyai silsilah keturunannya.
D. Teori Pengelompokan
Secara garis besar teori pengelornpokan dapat dibedakan menjadi dua macam teori, yakni teori-teori pohon (stammbaum theorie, pedigree theory} dan teori gelombang (wallentheorie, wave theory).
- Teori Pohon, Teori ini dipelopori oleh August Schleicher (1866). Teori beranggapan bahwa bahasa-bahasa yang ada di dunia ini ibarat ranting-ranting kecil dari suatu pohon.
- Metode Daftar Kosa Kata Dasar
- Metode ini sebenarnya merupakan penyempurnaan dari metode inspeksi, sebab pada dasarnya memang tidak berbeda dengan metode inspeksi. Letak perbedaannya ialah pada metode ini daftar kosa kata yang diperiksa atau diselidiki atau diperbandingkan adalah daftar kosa kata yang sudab ditetapkan secara pasti. Daftar kosa kata tersebut mencakup daftar kata-kata yang tidak mudah berubah, misalnya : nama anggota tubuh, nama benda-benda alam, kata ganti, kata bilangan pokok, nama-nama alat rumah tangga yang umum, nama sifat benda alam, pekerjaan sehari-hari dan sebagainya. Daftar kosa kata dasar ini yang paling terkenal adalah daftar yang disusun oleh Morrish Swadesh, sehingga akhirnya terkenal dengan nama "Daftar Swadesh". Daftar Swadesh tersebut secara lengkap dapat dilihat pada lampiran.
- Metode lnovasi, Nama metode ini sudab mengisyaratkan kepada kita bahwa pada dasamya hanya merupakan bentuk pembaruan dari rnetode sebelumnya, yakni metode kosa kata dasar. Secara teoritik dimungkinkan bahwa suatu bahasa tertentu akan rnenukar kosa kata dasarnya dengan kata yang lain. Penggantian kata tersebut bukan karena pengaruh dari Iuar, dao biasanya jumlahnya tidak banyak. Oleh karena itu secara prinsip sebenarnya hal ini bukan merupakan metode tersendiri, sebab prinsip dan langkah yang ditempuh tidak berbeda dengan metode-metode yang lain, hanya bahan yang diperbandingkan saja yang berbeda, jadi baik metode inspeksi, rnetode kosa kata dasar, dan metode inovasi pada hakekatnya rnerupakan metode pengamatan sekilas terhadap sejumlah kosa kata yang diteliti.
Berikut salinan buku Lingusitik Historis Komparatif Bahasa Simalur (Simeulue) di bawah ini!


0 Komentar