SIMULATIONS | Tengku Banurullah berasal dari pulau Nias atau Gunung Sitoli yang namanya sebelum masuk Islam bernama "Gafaleta." Gafaleta sebagai kepala suku yang telah memeluk agama Islam dan beberapa tahun kemudian bersama para pengikutnya timbul keinginan untuk memperdalam agama Islam ke Kerajaan Aceh yang disebut Serambi Mekkah. Namun, dalam perjalanan rombongan mereka dihadang cuaca buruk, hujan lebat, dan angin badai di tengah lautan sehingga mereka terdampar di pulau Teupah, tepatnya di Sawang Banyak (Ulul Sefel), sekarang kebun kelapa alm. Datuk Nyak Lamu kakeknya alm. Azharudin Agur. Setelah itu, beliau menuju ke Salur yang menurut anggapan beliau di situ ia akan memperdalam agama Islam. Tetapi kenyataan lain, ternyata penduduknya bahkan masih mante atau belum beragama sama sekali. Melihat situasi yang tidak sesuai dengan rencana awal akhirnya Tengku Banurullah mengubah rencananya dengan membantu menyiarkan agama Islam terlebih dahulu kepada masyarakat mante itu. Tengku Banurullah mengajak para mante-mante dengan strategi pertama bercocok tanam dan seterusnya diajarkan agama dan kesenian yang bernuansa agama Islam. Setelah mereka memeluk agama Islam, dengan baik dan sudah dapat menikmati hasil mereka bercocok tanam. Sebelum ia meninggal dunia, beliau meminta para pengikutnya agar beliau setelah wafat nanti dimakamkan di atas gunung batu, (batu besar) yang tidak jauh dari lokasi masjid daerah Salur saat ini.
Mendengar ucapan beliau para
pengikutnya bertanya, "Bagaimana kami bisa menggali kuburannya, Tengku?
Lalu Tengku Banurullah menjawab "Nanti ambilkan sisa air mandi
jenazah saya, dan siramkan ke batu besar tersebut, insyah Allah para sahabatku
akan mampu menggali kuburanku dan membuat liang lahat yang baik untukku.”
Akhirnya kenyataannya memang demikian, maka sewaktu beliau meninggal dunia
tepat pada hari Jum'at dia kuburkan di atas batu besar di bawah sebatang pohon
yang rindang (pohon beringin). Dan disitulah Tengku Banurullah dimakamkan
dan disebut juga sebagai Tengku Bakudo Batu.
Menurut sejarah dari Mohd. Riswan (Moris) gelar Tengku Bakudo Batu yang diberikan oleh masyarakat kepada Tengku Banurullah bukan hanya karena makamnya yang terletak di atas batu, akan tetapi konon pada zaman dahulu tidak lama setelah wafatnya Tengku Banurullah setiap hari Jum’at menjelang siang terlihat dari arah makam Tengku Banurullah seperti ada awan yang terbang dan di atasnya dan terdapat seseorang yang mengendarai kuda terbang dari makam menuju kubah masjid Salur. Konon pada saat itu, tergambarkan dibenak masyarakat seolah-olah seperti ada seseorang yang sedang mengendarai kuda terbang dan diyakini merupakan Tengku Banurullah yang ikut serta dalam melaksanakan shalat Jum’at di masjid yang pertama di Bangun Tengku Banurullah di wilayah Teupah yaitu masjid Salur (Masjid Babussalihin).
Menurut Mohd. Riswan (2024) tahun
kedatangan dan wafatnya Tengku Banurullah di daratan Teupah sejauh ini belum mendapatkan informasi yang
tepat, namun beberapa cerita mengisahkan bahwa kedatangannya bersamaan dengan
kejayaan Kesultanan Aceh pada masa Sultan Iskandar Muda atau berkisar tahun
1607-1636.
Lebih lanjut informasi dari Mohd. Riswan (Moris), kemudian dalam tulisan Citra Dewi Maisara (2019), dan tulisan Delvita Sari (2022) menerangkan kedatangan Tengku Banurullah ke daratan Teupah awalnya di masa Kerajaan Aceh di bawah pemerintahan Sultan Iskandar Muda dengan panglimanya seorang wanita yang sangat terkenal yaitu Laksamana Keumalahayati yang dapat menaklukkan beberapa daerah atau kerajaan secara berturut-turut mulai dengan ditaklukkan Kerajaan Pahang Peda tahun (1618), Kedah pada tahun (1619), Perak pada tahun (1602) dan Nias pada tahun (1624).
Akan tetapi, informasi sejarah kedatangan Tengku Banurullah ini kemudian mendapat berbagai macam pendapat ahli. Ada beberapa sejarawan yang membantah informasi ini salah satunya, tulisan Melinda Rahmawati (2023:12) menyebutkan dialah Laksamana Keumalahayati, seorang panglima laut (admiral) tertinggi Kesultanan Aceh Darussalam pada era kepemimpinan Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV yang memerintah sekitar tahun 1585-1604.
Tulisan Anton Setiawan (2023:29) menyatakan
Malahayati saat baru berusia 35 tahun atau sekitar 1585, Malahayati dipercaya
menjabat Kepala Barisan Pengawal Istana Rahasia dan Panglima Protokol
Pemerintah semasa Sultan Alauddin Riayat Syah Saidil al-Mukammil Alauddin
Riayat Syah memerintah. Tulisan Ismail Sofyan
(1994:09) Keumalahayati perempuan asli Aceh kelahiran 1 Januari 1550 dan
menjadi satu di antara pahlawan dari Tanah Rencong yang bernyali besar, selain
Cut Nyak Dien dan Cut Nyak Meutia yang melawan kolonialisme. Terlahir dengan
nama Keumalahayati, ia berasal dari keluarga pengarung samudra berdarah biru. Seperti
tertulis di dalam buku Wanita Utama Nusantara dalam Lintasan Sejarah,
karya Ismail Sofyan disebutkan bahwa ayah Malahayati yakni Laksamana Mahmud
Syah adalah Panglima Angkatan Laut Kesultanan Aceh. Malahayati adalah cicit
dari Sultan Salahuddin Syah, raja kedua di Kesultanan Aceh yang memerintah pada
tahun 1530 sampai 1539.
Masa remaja Malahayati dihabiskan di
lingkungan istana termasuk mengikuti akademi militer matra angkatan laut
kesultanan bernama Mahad Baitul Maqdis. Saat baru berusia 35 tahun atau sekitar
1585, Malahayati dipercaya menjabat Kepala Barisan Pengawal Istana Rahasia dan
Panglima Protokol Pemerintah semasa Sultan Alauddin Riayat Syah al-Mukammil
memerintah.
Perlawanan terhadap kolonialisme Portugis pertama kali dilakukan Malahayati lewat sebuah pertempuran di perairan Teluk Haru dekat Selat Malaka pada 1586. Suami Malahayati, Laksamana Tuanku Mahmuddin bin Said Al Latief yang juga Kepala Pengawal Sultan memimpin pertempuran. Puluhan kapal kayu Kesultanan Aceh berusaha mencegat kapal-kapal perang Portugis. Armada perang Kesultanan Aceh mampu memukul mundur Portugis, namun sayang suami Malahayati gugur dalam pertempuran tersebut. Ia tidak dapat menerima kenyataan tersebut dan berjanji menuntut balas dan meneruskan perjuangan sang suami. Posisi mendiang Laksamana Tuanku Mahmuddin kemudian digantikan oleh Malahayati. Panglima Malahayati sendiri kemudian wafat 30 Juni 1615 ia dikebumikan di bukit Krueng Raya, Lamreh, Aceh Besar.
Tulisan-tulisan di atas memberikan
gambaran bahwa masa kejayaan Panglima Malahayati pada periode pemerintahan Sultan
Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV atau berkisar tahun 1585 sampai dengan
1615.
Tulisan yang lain tentang alur
kedatangan rombongan Tengku Banurullah dari Nias dalam keadaan beragama Islam di masa
Kesultanan Sultan Iskandar Muda juga mendapat berbagai macam pendapat para ahli
sejarah. Di antaranya tulisan Wahlan Haris Tanjung (2021:2) syiar Islam di Pulau
Nias bermula ketika Teuku Polem, berlayar ke selatan Sumatra pada tahun 1642.
Putra sulung dari Teuku Cik, kepala pemerintahan Aceh bagian Barat ini datang ke
Nias di muara Luaha Laraga Idano dan disambut baik warga setempat, Balugu
Harimao. Setahun kemudian, Teuku Polem menikah dengan Bowo’ana’a,
putri Balugu Harimao.
Setelah mengucapkan dua kalimat
syahadat, Bowo’ana’a menjadi orang Nias pertama yang memeluk Islam. Tulisan Pulungan (2016) pada
tahun 1691 Masehi, Injik Puncak Alam sampai ke pulau Nias beserta rombongannya
yang bernama Injik Putih, Injik Cangap, Sutan Majo Lelo, Sutan Kasih, Tuanku
Magek, dan sebagainya, mereka semua berasal dari negeri Pariangan Padang
Panjang Sumatera Barat (Minangkabau).
Dalam perkembangan selanjutnya Injik
Puncak Alam lebih di kenal dengan nama Datuk Raja Ahmad oleh masyarakat pulau
Nias. Pada mulanya keberangkatan Datuk Raja Ahmad dari Minangkabau untuk mencari
mamak atau pamannya taunku Karim yang hilang dalam perjalanan, dalam perjalanan
rombongan Datuk Raja Ahmad ditimpa oleh amukan badai, sehingga untuk menanti
cuaca baik, rombongan Datuk Raja Ahmad berlabuh di teluk belukar (Talu Baluku)
sekitar 15 Km sebelah utara Gunungsitoli yang sekarang. Kedatangan Datuk Raja
Ahmad pada mulanya dicurigai oleh penduduk setempat makannya mereka terus
diamati dan diawasi.
Setelah penduduk yakin bahwa yang
datang bukan musuh, barulah mereka berani keluar dari tempat persembunyian dan
melihat pincalang (perahu besar) Datuk Raja Ahmad tanpa ada kecurigaan sedikit
pun. Datuk Raja Ahmad bersedia tinggal di Pulau Nias atas permintaan dari
raja-raja Nias. Setelah Datuk Raja Ahmad tinggal di Nias, dalam waktu yang
tidak lama, dia bisa berinteraksi dengan masyarakat terutama dengan Si Tolu Tua
yang dianggapnya sebagai saudaranya sendiri.
Siti Zohora, putri Teuku Polem
kemudian dinikahkan dengan Datuk Ahmad, seorang bangsawan Minangkabau dari
Padang Pariaman, pada tahun 1690. Keturunannya tinggal di Hele Duna yang terus
berkembang hingga dikenal sebagai Kampung Mudik. Mereka kemudian berbaur dan
menikah dengan penduduk asli Nias. Salah satu anak Datuk Ahmad tinggal di Ilir,
Gunungsitoli. Sejak saat itu, Datuk Ahmad menyebarkan agama Islam agar semakin
kuat di Kampung Ilir dan Mudik sepanjang sungai Kali Nou, dan meneruskan
tradisi kesultanannya. Masuknya agama Islam di
Nias pada kesultanan Aceh Sri Ratu Safi al-Din Taj al-Alam (1641-1675 M) dan
mulai berkembang Islam pada masa kesultanan Aceh Sultan Badr al-Alam Syarif
Hashim Jamal al-Din (1699-1702 M).

0 Komentar