Hasanul Amri Berhasil Cetak Buku "Awal Mula Masuknya Agama Islam ke Pulau Simeulue"

https://atjehwatch.com/2024/07/11/berhasil-tuliskan-buku-guru-penggerak-dari-abdya-serahkan-karyanya-kepada-kepala-bgp-provinsi-aceh/

Hasanul Amri (Sejarah Masuknya Agama Islam di Simeulue)

A.   Tengku Khalilullah Alias Tengku Diujung

1.      Tanah Kelahiran Tengku Khalilullah

            Ada beberapa literatur yang menceritakan Sejarah Tengku Khalilullah di antaranya tulisan Bijdragen tot de Taal Land en Volkkenkunde van Nederlandsch Indie (1912)  menyebutkan bahwasanya penduduk Simeulue telah menganut agama Islam yang dibujuk seorang Melayu yang bernama Khalilullah yang datang atas perintah Sultan Aceh untuk membawa Islam ke pulau Simeulue hingga ia wafat di sana dan dimakamkan di ujung Pulau Simeulue.[1]

            Literatur yang lain dalam tulisan H.W. Fischer dalam jurnal Belanda “Tengku Chalelullah” mengatakan bahwa Tengku Khalilullah atau dikenal juga dengan nama Tengku Diujung alias Syeikh Leubeh Nalir diperkirakan lahir pada abad ke-16 tepatnya pada tahun 1558 Masehi.[2] Tulisan Roth Loft dan Martinus Nijof (1880) masuknya agama Islam disebarkan oleh Khalilullah yang diutus oleh seorang raja dari Kerajaan Aceh untuk menyiarkan agama Islam di sana.[3] Tulisan Kern, R. A. (1927) masuknya agama Islam di Simaloeh disebarkan oleh Mohammadaan. Dia merupakan orang yang shaleh dan pergi bersama para pengikutnya ke Simalur. Mereka segera menangkap Songsong Bulu (Bakokoe). Namun, ia tetap diberi pengampunan dengan syarat ia tidak lagi mengganggu negara (daerah) dan penduduknya serta rajin bekerja sama dalam penyebaran Islam. Mohammadaan (Tengku Khalilullah) dari Ulákan yang saleh memiliki hak untuk menyelesaikan dan menangani semua masalah agama, perceraian, warisan, dll. di Simaloeh.

            Mohammadaan seorang muslim yang taat dan terpelihara, makamnya dimuliakan sebagai suci dan menurut tempat pemakamannya disebut Tuangku di Oendjoeng. Budak yang menyelamatkan negaranya dan rekan senegaranya dan melalui wanitanya yang diagungkan si Meuloer, yang memberi keterangan kepada Tuangku di Oendjoeng.[4] Tulisan Jauhari Ishak (1984) dalam Hikayat Putroe Meulue atau Putri Melur yang menerangkan pada saat itu masih ada sebuah pulau yang belum ada hubungan dengan Kerajaan Aceh. Karena itu, rakyat di pulau itu belum beragama Islam. Sultan Acceh berusaha supaya pulau itu menjadi wilayah kerajaan Aceh. Demikian juga supaya rakyatnya memeluk agama Islam. Oleh karena itu, Sultan mengirim Teungku Di Ujöng ke pulau itu. Tgk. Di Ujöng menyiapkan sebuah perahu bersama dengan istrinya Putroe Meulue. Setelah siap berlayarlah beliau menuju ke pulau itu. Masyarakat Simeulue akhirnya memeluk agama Islam. Tulisan Ali Fahmi, (2008) “Sejarah Masuknya Agama Islam di Pulau Simeulue” dan tulisan Azharuddin Agur, dkk. (1996) dalam buku “Bunga Rampai Simeulue” dan hasil wawancara dengan tokoh-tokoh sejarawan Simeulue tentang alur dan proses awal mula masuknya Agama Islam di Pulau Simeulue.[5]

            Tulisan-tulisan tersebut lebih menceritakan detail tentang proses penyebaran agama Islam dan perjalanan kehidupan Tengku Khalilullah dari Kesultanan Aceh menuju pulau Simeulue. Tengku Khalilullah atau Tengku Di Ujung hidup dalam masa periode pemerintahan Kesultanan Aceh yakni pada masa pemerintahan:  

1.     Sultan Alaudin Riayat Syah al-Kahar, memerintah tahun (1537-1568) Masehi,

2.     Sultan Sri Alam, memerintah pada tahun (1575-1576) Masehi,

3.     Sultan Zain al-Abidin, memerintah tahun (1576-1577) Masehi,

4.     Sultan Ala’ al-Abidin, memerintah tahun (1577-1589) Masehi,

5.     Sultan Buyung, memerintah pada tahun (1589-1596) Masehi,

6.     Sultan Alauddin Riayat Syah IV Saidil Mukamil, (1589-1604) Masehi,

7.     Sultan Muda Ali Riayat Syah V, (1604-1607) Masehi, dan

8.     Sultan Iskandar Muda Meukuta Alam, memerintah tahun (1607-1636) Masehi.[6]

            Tengku Khalilullah (Syeikh Leubeh Nalir) lahir di Ulakan, Padang Pariaman, Sumatera Barat. Ia dibesarkan di kerajaan Islam Pagaruyung, Sumatera Barat. Menurut legenda Minangkabau, Kerajaan Pagaruyung didirikan oleh Datuk Ketumanggungan, yang merupakan salah satu keturunan dari empat datuk pembawa adat yang dianggap suci yaitu Rajo Gudanggo, Tuangku Lubuk Si Dukung, Raja Batuah, dan Raja Padang Manggis. Kerajaan ini merupakan salah satu kerajaan tertua di wilayah Sumatera Barat dan dipercaya telah ada sejak abad ke-14.[7]

            Raja-raja Pagaruyung dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana dan memegang kekuasaan yang besar dalam sistem pemerintahan adat Minangkabau yang dikenal dengan nama "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah," (Duski Samad, 2003). Kerajaan Pagaruyung pada abad ke-16 masih di bawah pengaruh Kerajaan Aceh dengan kepemimpinan Sultan Iskandar Muda yang mencapai puncak kejayaannya.             Pada masa ini, Aceh berhasil memperluas wilayah kekuasaannya di sebagian besar wilayah Sumatera dan juga wilayah-wilayah sekitarnya, termasuk beberapa wilayah di Sumatera Barat. Aceh mampu melakukan ekspansi ke Sumatera Barat melalui perluasan wilayah kekuasaannya dan juga melalui perjanjian dengan kerajaan-kerajaan setempat termasuk kerajaan Pagaruyung.

            Pengaruh Aceh memasuki abad ke-19 mulai memudar karena Aceh dan Belanda terlibat dalam perang yang dikenal sebagai Perang Aceh. Konflik ini berlangsung dari tahun 1873 hingga 1904, di mana Belanda berusaha menguasai wilayah Aceh yang pada saat itu merupakan kerajaan yang berdaulat hampir dikeseluruhan wilayah Sumatera. Usaha Belanda merebut wilayah Aceh telah dilakukan dengan berbagai upaya tetapi tetap tidak membuahkan hasil hingga akhirnya pada tahun 1904 Aceh berhasil ditaklukan, (Aris Faisal Djamin, 2021).[8] Agresi militer Belanda yang dipimpin oleh Mayor J.H.R. Kohler diperintahkan untuk segera memimpin penyerangan Aceh. Tanggal 22 Maret 1873 Kapal Citadev van Antwerpen berlabuh di perairan Aceh Darussalam.


2.   Hijrah dari Sumatera Barat Menuju Kerajaan Aceh

            Pada tahun ke-7 kepemimpinan Sultan Iskandar Muda atau berkisar tahun 1614, Masehi Tengku Khalilullah berangkat dari Sumatera Barat menuju Kerajaan Aceh, berniat ingin menunaikan rukun Islam yang ke lima yaitu ibadah haji ke Baitullah. Kerajaan Aceh sebagai embarkasi haji pertama dalam sejarah Nusantara memang telah dimulai sejak abad ke-13 dan abad ke-14 Masehi, (Reid, 1969). Pengamat sejarah asal Jakarta JJ Rizal, menuturkan bahwa orang-orang dari berbagai wilayah di tanah air harus lebih dulu berangkat ke Aceh sebelum meneruskan perjalanan ibadah haji.

            Keberangkatan ini termasuk jamaah yang berasal dari Jakarta pada masa itu. Letak yang strategis dan kedigdayaannya sebagai kekuatan besar Islam kala itu, menjadikan Aceh sebagai pusat embarkasi haji pertama di Nusantara. Menurut M. Shaleh Putuhena dalam bukunya, Historiografi Haji Indonesia, mengutip cerita Lewis Barthema dari Roma (Italia) yang pernah menyaksikan kehadiran jamaah haji dari Greater India dan Lesser East Indies, kepulauan Nusantara pada tahun 1503 abad ke-16 di Jeddah (Arab Saudi). Bahkan pada tahun 1526, Portugis menghancurkan sebuah kapal niaga dari Aceh yang hendak berlayar menuju Jeddah. Namun, beberapa kapal Aceh berhasil lolos dan tiba Jeddah, Arab Saudi.[9]

            Sebuah sumber lain dari Venesia menyebut periode tahun 1565 hingga 1566, lima kapal kerajaan Aceh berhasil berlabuh di Jeddah untuk menunaikan ibadah Haji. Selama masa Kesultanan Aceh Darussalam, pada awal abad-17 di bawah pemerintahan Sultan Iskandar Muda kerajaan Aceh ikut mendukung perjalanan haji dengan menyediakan dukungan logistik, seperti kapal-kapal khusus untuk perjalanan haji dan bantuan bagi peziarah yang kurang mampu. Para peziarah Aceh juga akan membawa kembali pengaruh dan pengalaman baru dari perjalanan mereka, yang akan berdampak pada perkembangan budaya dan keagamaan Islam di Aceh.

            Hal inilah yang melatarbelakangi Tengku Khalilullah hijrah dari Sumatera Barat menuju Kerajaan Aceh untuk melaksanakan ibadah Haji ke Kota Mekkah. Selain satu-satunya kerajaan yang dapat memberikan akses perjalanan haji, Kerajaan Aceh juga ikut andil memberikan bantuan kepada pendatang yang kurang mampu untuk dapat menunaikan ibadah Haji ke Baitullah.

            Pada embarkasi keberangkatan haji ke-7 di bawah pemerintahan Sultan Iskandar Muda berkisar tahun 1614 Masehi Tengku Khalilullah tiba di Kuta Raja dan mendaftarkan perjalanan hajinya ke Kerajaan Aceh. Namun, keberangkatan haji Tengku Khalilullah belum mendapatkan rezeki dari Allah Swt., kloter haji yang didaftarkan Tengku Khalilullah pada saat itu kuotanya telah penuh sehingga setibanya ia di istana Kerajaan Aceh rombongan haji telah duluan berangkat menuju Baitullah, (Ali Fahmi, 2008).   Gagalnya berangkat haji pada tahun itu, Tengku Khalilullah tetap berencana untuk menunaikan haji di tahun berikutnya. Tengku Khalilullah lebih memilih berdiam diri di Kerajaan Aceh dan tidak kembali ke Sumatera Barat agar tidak terlambat dikloter haji tahun berikutnya. Berbekal pengalaman pahit yang dia alami sebelumnya tidak ingin terulang kembali di tahun yang akan datang. Hal inilah kemudian yang menjadikan Tengku Khalilullah memilih untuk tetap di istana Kerajaan Aceh pada saat itu.


3.     Pertemuan di Istana Kerajaan Aceh

            Setelah beberapa waktu berlalu, terdengarlah kabar ke istana kerajaan bahwa ada salah seorang ulama dari Sumatera Barat yang gagal berangkat haji ke Baitullah. Menanggapi berita yang berkembang di masyarakat pada waktu itu, Sultan Iskandar Muda mengutus pengawalnya dari istana untuk menyelidiki kebenaran berita yang diisukan masyarakat tentang berita ulama itu. Setelah mendapat laporan pengawal utusan dari istana bahwa benar ada salah seorang ulama yang gagal berangkat haji pada saat itu, maka Sultan Iskandar Muda menggunakan kesempatan ini dengan mengundang Tengku Khalilullah datang ke istana kerajaan. Tengku Khalilullah datang menghadiri undangan Sultan Iskandar Muda untuk berdiskusi, guna membahas beberapa hal baik dalam kepentingan agama dan masyarakat, (Ali Fahmi, 2008). Pada hari yang telah ditentukan Tengku Khalilullah bertatap muka dengan Sultan Iskandar Muda.\

            Tengku Khalilullah atau Tengku Diujung menceritakan satu persatu perjalananya hingga sampai di Kerajaan Aceh. Adapun percakapan antara Tengku Khalilullah dan Sultan Iskandar Muda termuat dalam tulisan buku Ali Fahmi, (2008) sebagai berikut ini:

“Sultan yang mulia! Rencana hamba kemari sudah lama hamba niatkan karena rencana hamba tahun ini akan menunaikan rukun Islam yang kelima yaitu naik haji ke tanah suci Al-Mukarromah. Tetapi, sesampainya hamba di sini kapal yang mengangkut jamaah haji dari Kerajaan Aceh sudah berangkat dari pelabuhan Ulee Lheue. Oleh karena itu, mungkin hamba belum mendapat izin dari Tuhan Yang Maha Esa untuk menunaikan ibadah haji tahun ini dan hamba mohon kepada yang mulia agar tahun depan hamba dapat didaftarkan menjadi salah seorang jamaah dari Kerajaan Aceh untuk dapat diberangkatkan ke tanah suci Makkah.” Ungkap Tengku Khalilullah.

            Sultan Iskandar Muda mendengar penuturan Tengku Khalilullah sangat terharu hatinya tentang niatnya yang belum terlaksana karena terlambat datang ke Kuta Raja dan kapal yang mengangkut rombongan jamaah haji dari Kerajaan Aceh telah duluan berangkat menuju tanah suci Makkah. Atas penyampaian Tengku Khalilullah itu ada beberapa petuah yang disampaikan oleh Sultan Iskandar Muda untuk menjawab pernyataan dari Tengku Khalilullah yang termuat dalam buku Ali Fahmi berikut ini:

Tengku yang mulia saya mohon kepada Tengku agar jangan terlalu dipikirkan niat baik Tengku yang belum terlaksana ini, karena mungkin Tuhan Yang Maha Esa belum mengabulkannya tahun ini dan menggantinya dengan rezeki yang lain, manusia boleh berencana tetapi rencana Allah jualah yang menentukannya. Oleh karena itu, mungkin Allah Swt. menentukan jalan lain atas niat baik Tengku tersebut. Tengku yang mulia sebenarnya sudah lama juga niat saya ingin bertemu dengan seorang ulama yang seperti Tengku ini untuk mendiskusikan pengembangan agama Islam di pulau-pulau yang masih terisolir dalam wilayah Kerajaan Aceh. Oleh karena itu, bagi saya kedatangan Tengku ke kerajaan ini merupakan suatu Rahmat dari Tuhan yang Maha Kuasa. Untuk Tengku ketahui bahwa di sebelah Barat dari negeri kami ini ada sebuah pulau namanya Pulau “U” pulau tersebut di bawah kekuasaan seorang raja yang bernama Datuk Songsong Bulu di sana kehidupan masyarakatnya masih primitif belum mengenal agama bermacam-macam kejadian yang timbul dalam masyarakat yang masih jauh di luar batas-batas kemanusiaan. Kepercayaan masyarakat di sana masih menganut Animsime dan Dinamisme, masyarakat di pulau “U” yang kaya merampas yang miskin kemudian ditindas dan yang lemah seperti kaum hawa yang masih muda belia menjadi sasaran pelecehan untuk mendapatkan uang yang banyak dengan cara menjual belikan mereka keluar pulau untuk dijadikan sebagai wanita piaraan.” Ungkap Sultan Iskandar Muda.

            Setelah itu, Sultan Iskandar Muda melanjutkan pembicaraannya dengan bermunajat kepada Allah Swt., dan meminta kepada Tengku Khalilullah untuk berkenan mengurungkan niatnya melaksanakan ibadah haji tahun berikutnya dan menggantikannya dengan ibadah yang lain yakni mengislamkan pulau “U”. Pulau “U” atau “Oe” dalam bahasa Aceh “U” artinya “Kelapa” (Pulau Kelapa) adalah penamaan Pulau Simeulue pada zaman kerajaan Sultan Iskandar Muda. Sultan Iskandar Muda juga memberi waktu kepada Tengku Khalilullah untuk mengambil keputusan yang tepat terkait dengan permintaan dari Sultan Iskandar Muda saat itu.

            Sementara Tengku berpikir dalam tenggang waktu yang diberikan raja kepadanya, untuk pengambilan keputusan yang bijaksana karena menyangkut kehidupan masyarakat banyak. Tengku Khalilullah berdo’a memohon petunjuk kepada Allah Swt., akhirnya Tengku Khalilullah mengambil keputusan bahwa ia terima tawaran permintaan Sultan Iskandar Muda tersebut. Keputusan yang diambil Tengku Khalilullah sangat tepat dan bijaksana karena sesuai dengan misinya sebagai seorang ulama. Dalam Islam pun dijelaskan Al-Ulama Waratsatul Anbiya ulama itu adalah pewaris nabi. Tanggung jawab yang diamanahkan Sultan Iskandar Muda kepadanya bukanlah tugas yang biasa-biasa saja, akan tetapi suatu tugas yang sangat berat berbagai hambatan, tantangan, dan rintangan.

            Maka dalam hal ini, Tengku Khalilullah mengambil keputusan untuk mengikuti saran Sultan Iskandar Muda karena demi tugas yang sama pentingnya berjihad di jalan Allah mengislam satu daerah yang belum mengenal agama. Mendengar jawaban dari Tengku Khalilullah betapa gembira dan bahagianya hati Sultan Iskandar Muda karena sudah lama menjadi salah satu misinya untuk dapat menyebarkan panji-panji Islam ke daerah-daerah kekuasaan Kerajaan Aceh yang masih primitif dan menganut kepercayaan animisme dan dinamisme.

            Namun, diakhir pembicaraan Tengku Khalilullah menyampaikan bahwa pulau “U” yang dimaksud oleh Sultan Iskandar Muda belum diketahui oleh Tengku Khalilullah keberadaannya, sehingga Tengku Khalilullah meminta kepada Sultan Iskandar Muda untuk dicarikan salah seorang yang dapat menjadi penunjuk arah menuju Pulau “U” tersebut. Sultan Iskandar Muda pun menyahuti permintaan dari Tengku Khalilullah, ia meminta kepada pengawal untuk memanggil Putri Meulue. Putri Meulue adalah perempuan yang berasal dari Pulau “U” (Pulau Kelapa) yang telah lama menjadi salah-satu pembantu di istana Kerajaan Aceh.

            Putri Meulue dikenal masyarakat Simeulue dengan sebutan nama yang beragama ada yang menamainya Putri Cut Meulue, Putri Meuloer, Putri Maloer, Putroe Meulue, dan Putri Simaloer. Putri Meulue adalah seorang perempuan yang cantik jelita, suci, dan memiliki sopan santun yang tinggi. Sultan Iskandar Muda banyak mendapat informasi terkait dengan keadaan masyarakat di pulau “U” berdasarkan cerita dari Putri Meulue selama ia di istana. Putri Meulue sendiri orang yang memperkenalkan kondisi masyarakat pulau “U” yang masih belum mengenal agama serta masih jauh dari hal-hal yang berprikemanusiaan.

            Setibanya Putri Meulue dihadapan Sultan Iskandar Muda, ia langsung diperkenalkan kepada Tengku Khalilullah bahwa perempuan inilah yang akan menjadi penunjuk jalan menuju Pulau “U” dia berasal dari pulau tersebut. Kemudian Tengku Khalilullah sangat bersyukur karena tidak menunggu lama permintaannya langsung dikabulkan oleh Sultan Iskandar Muda saat itu.

            Namun, sebagai seorang ulama tentu ia sangat berhati-hati agar tidak menimbulkan fitnah. Sehingga ia menanyakan kepada Raja Aceh apakah tidak ada laki-laki yang dapat menjadi penujuk arah ke pulau “U,” supaya tidak menimbulkan fitnah, dan agar perjalannya tidak sumbang karena jarak yang ditempuh sangat jauh antara seorang laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim dalam satu perjalanan. Mendengar apa yang disampaikan oleh Tengku Khalilullah, Sultan Iskandar Muda sangat memahami apa yang dimaksud oleh Tengku Khalilullah terkait dengan perjalanan mereka antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrimnya dalam satu perjalanan jauh dan dalam kondisi yang berat tentu banyak menimbulkan fitnah dan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

            Akan tetapi, Sultan Iskandar Muda juga menyadari bahwa saat itu informasi yang diperoleh bahwa Putri Meuluerlah orang satu-satunya diketahui berasal dari Pulau “U” kala itu. Sehingga Sultan Iskandar Muda memberikan solusi untuk mengatasi masalah tersebut dengan memberikan penawaran kepada Tengku Khalilullah dan Putri Meulue sebelum berangkat ke pulau “U” dinikahkan.

 

4.   Pernikahan Tengku Khalilullah dan Putri Meulue

            Tengku Khalilullah mendengar tawaran dari Sultan Iskandar Muda dengan tangan terbuka serta hati yang tulus ikhlas karena sebagai salah satu faktor pendukung tugas-tugas beliau selanjutnya. Mendengar jawaban dari Tengku Khalilullah, akhirnya terlaksanalah niat serta hasrat Sultan Iskandar Muda menjodohkan Tengku Khalilullah dengan Putri Meulue. Tengku Khalilullah dan Putri Meulue akhirnya dinikahkan Sultan Iskandar Muda di istana kerajaan.

            Putri Meulue menikah dengan Tengku Khalilullah di usianya yang ke-29 tahun sementara Tengku Khalilullah diusianya yang 56 tahun (Wawancara, Mohd. Afiah). Pernikahan antara Tengku Khalilullah dengan Putri Meulue diharapkan nantinya dapat mempermudah komunikasi antara penduduk lokal pulau “U” dengan Tengku Khalilullah melalui Putri Meulue. Kemudian dapat menjalin hubungan persaudaraan yang lebih kuat antara Tengku Khalilullah dengan keluarga besar Putri Meulue di pulau “U” nantinya. Pernikahan antara Tengku Khalilullah dan Putri Meulue pun dilangsungkan di tahun 1614 Masehi atau bertepatan dengan tahun saat Tengku Khalilullah gagal berangkat haji ke Baitullah.

            Prosesi pernikahan Putri Meulue dengan Tengku Khalilullah yang langsung diwalinikahkan oleh Sultan Iskanda Muda. Keluarga istana pada saat itu segera menyepakati besaran mahar yang akan diminta kepada Tengku Khalilullah. Menurut satu keterangan besaran mahar Tengku Khalilullah kepada Putri Meulue saat itu sebesar satu buah uang saku emas 4 ringgit dan satu buah paon emas. Mahar Tengku Khalilullah ini pun sampai dengan tahun 2004 sebelum gempa dan tsunami menerjang pesisir Barat Aceh mahar itu masih di tangan salah seorang turunan dari Putri Meulue yaitu Mohd. Afiah di Desa Borengan. Namun, pasca bencana gempa tahun 2004 telah hilang.

            Menurut keterangan Mohd. Afiah mahar berupa uang dan emas tersebut telah dicuri dari rumahnya saat keluarganya berusaha mengungsi ke daerah pegunungan menyelamatkan diri dari bencana gempa dan tsunami atau dalam bahasa Simeuluenya “Linon dan Smong” dalam tulisan Ali Fahmi, (2008) pernikahan Tengku Khalilullah dan Putri Meulue pun berlangsung meriah di istana kerajaan Aceh.

            Para pembesar-pembesar kerajaan pun turut diundang dalam kegiatan pernikahan tersebut karena konon Sultan Iskandar Muda telah menggap Putri Meulue sebagai putrinya sendiri. Pernikahan antara Tengku Khalilullah dan Putri Meulue pun berlangsung khidmat, lancar, dan damai. Dalam satu riwayat dijelaskan bahwa Putri Meulue adalah istri Kedua dari Tengku Khalilullah.

            Tengku Khalilullah sebelum berangkat ke Aceh telah berkeluarga dan dikaruniai dua orang anak salah satunya bernama Bojou. Menurut hasil wawancara dengan tokoh-tokoh sejarah Simeulue Tengku Khalilullah melaksanakan ibadah haji pada umur 56 tahun. Keluarga Tengku Khalilullah saat resepsi pernikahannya dengan Putri Meulue turut hadir juga perwakilan dari Sumatera Barat keluarga besar dari Tengku Khalilullah. Ia pun meminta izin kepada keluarga dan istrinya yang pertama untuk menikah kembali karena amanah raja dan memperjuangkan penyebaran agama Islam yaitu agama Allah Swt., ke salah satu pulau yang belum mengenal agama Islam yaitu pulau “U.”

 

5.     Putri Meulue Hingga di Istana Kerajaan

            Pada tahun 1513-1598 Masehi berkisar abad 16, atas perintah dari Sultan Ali Mughayat Syah sampai dengan pemerintahan Sultan Ala’al-Din Riayat Syah Sayyid al-Mukammil, Kesultanan Aceh merebut dan menduduki beberapa pelabuhan di pantai Barat Sumatera. Kapal dari Aceh juga sering menggerebek pesisir pantai Nias, Mentawai, Pulau Banyak, dan Pulau Simeulue. Sampai hari ini masih ada beberapa pantai yang dikenal sebagai Pantai Aceh di wilayah Nias dan dikenang sebagai pantai-pantai di mana perompak mendarat dan menculik orang Nias untuk menggunakannya sebagai budak. Pada tahun 1542 tujuh buah biduk (perahu layar besar) dari Aceh mendarat di pantai timur Nias (museum-nias.org/sejarah-nias).[11]

            Putri Meulue sendiri diperkirakan ditawan oleh perompak asal Aceh pada zaman kesultanan Sultan Buyung atau berkisar tahun 1598 Masehi saat itu ia masih berumur 13 tahun. Pada periode ini diyakini Putri Meulue beserta tawanan yang lain dari bagian kepulauan Barat Sumatera ikut serta diculik oleh perompak Aceh dan menjualnya ke kerajaan Aceh untuk dijadikan budak atau dijual ke saudagar-saudagar asing yang menginginkan perempuan untuk dijadikan wanita simpanan. Putri Meulue lahir menurut beberapa keterangan dan tulisan terdahulu diperkirakan Putri Meulue lahir tepatnya pada tahun 1585 Masehi di Desa Borengan, Kecamatan Simeulue Cut.

  Ia lahir dari keluarga yang sederhana. Putri Meulue adalah anak kandung dari Tengku Waman. Putri Meulue dua bersaudara dengan kakaknya bernama Tengku Rebi. Putri Meulue semasa kecilnya sebelum ditawan oleh perompak Aceh menetap dan dibesarkan di Desa Borengan atau orang zaman dulu menyebutnya Kampung Tangah. Putri Meulue bersuku Lasali, menurut Mohd. Afiah tokoh sejarawan Simeulue, suku Lasali berasal dari daerah Mandailing, Sumatera Utara atau nama lain margannya adalah Nasution.    Penamaan Putri Meulue di daerah Simeulue pun beragam ada yang menamai Putri Melur, Puteri Meulue, Putri Cut Melu, dan Putri Simeulue. Namun, dalam catatan Belanda nama yang sering muncul disebut Putri Si-Maloer dan sekaligus untuk penamaan Pulau Simeulue saat itu.           Penamaan Simaloer oleh Belanda dikarenakan Putri Simaloerlah yang menjadi orang pertama memperkenalkan keberadaan masyarakat Simeulue ke daratan atau istana kerajaan. Putri Meulue setelah lama menetap di Simeulue bersama dengan Tengku Khalilullah menyebutnya dengan Putri Meulue. Ada sebahagian informasi yang menyampaikan bahwa di daerah kediaman Putri Meulue saat itu banyak ditanami pohon Bunga Meulue yang harumnya semerbak ketika masa bunga meulue itu mulai mekar.

            Sehingga masyarakat setempat saat itu juga sering menyampaikan ke rumah Bunga Meulue, atau panggilan untuk kediaman Putri Meulue di Simeulue. Jika saat ini dipertanyakan pendapat tentang penamaan yang paling tepat nama untuk Putri Meulue berdasarkan hasil wawancara dengan keturunannya saat ini nama yang lebih tepatnya penamaan Putri Meuluer adalah Putri Meulue. Hal ini dikarenakan dalam sejarah lisan yang dikisahkan turun temurun turunan dari Putri Meulue nama panggilannya disebut Putri Meulue. Penamaan Putri Meulue ditulis dengan Putri Simaloer penulis pilih dalam buku ini diambil dari beberapa penelitian Belanda yang menyebut Putroe Simaloer dan Putri Maloer.

            Suku Lasali sendiri asal katanya “Lasal” atau “Asal” (asal-usul) orang yang pertama migrasi ke daratan Simeulue. Namun, keterangan yang lain menyebutkan bahwa pada saat itu tidak hanya suku Lasali yang telah mendiami di daratan pulau Simeulue tetapi ada beberapa suku yang telah bertahap-tahap menetap bersamaan dengan suku Lasali di antaranya: suku Dagang, Suku Habu, Suku Bolawa, Suku Lanteng, Suku Habsi, suku Dainang (Chabesi), suku Dakwat, suku Aceh, suku Pamuncak, suku Abon, suku Bugis, dan lain-lain (IAIN, 1981:9). Dalam riwayat tulisan Ali Fahmi, menjelaskan bahwa selama menjadi tawanan Putri Meulue sangat menjaga kesuciannya. Dalam satu keterangan bahwa Putri Meulue sebelum dijadikan pembantu di kerajaan Aceh ia sempat diperjualbelikan ke saudagar asing. Namun, karena keteguhannya dalam menjaga kehormatannya Putri Meulue tidak ingin disentuh oleh saudagar asing tersebut. Menurut cerita dalam Buku Ali Fahmi (2008), Putri Meulue bahkan lebih memilih untuk bunuh diri dihadapan saudagar asing tersebut, jika saudagar asing itu memaksa menyentuh dirinya. Melihat apa yang dilakukan Putri Meulue saudagar tersebut akhirnya menyerah.

            Daripada bermasalah dengan kematian Putri Meulue di kediamannya saudagar itu akhirnya memilih untuk menjual Putri Meulue ke istana Kerajaan Aceh. Dan menjadikan ia pembantu di istana kerajaan pada saat itu. Selama menjadi pembantu dikerajaan Aceh Putri Meulue banyak belajar tentang pendidikan Agama Islam. Pengaruh Islam di Kerajaan Aceh pada zaman Sultan Iskandar Muda sangat kuat. Kebiasaan-kebiasaan dan rutinitas keibadatan di istana wajib diikuti oleh semua komponen istana. Hal inilah yang kemudian menjadi pembelajaran kepada Putri Meulue tentang pendidikan agama Islam pada saat itu.

            Putri Meulue belajar ilmu-ilmu dasar agama Islam yang melekat dalam tradisi Kerajaan Aceh di bawah kekuasaan Sultan Iskandar Muda pada saat itu.

 

6.   Tengku Khalilullah Bertolak ke Pulau “U”

            Dihari yang telah ditentukan saatnya Putri Meulue dan Tengku Khalilullah betolak ke Pulau “U.” Segala kebutuhan untuk keberangkatan pun disiapkan mulai dari pengawalan yang diutus dari istana dan termasuk dengan bekal makanan, obat-obatan, pakaian, dan beberapa perlengkapan perang untuk mencapai keselamatan hingga sampai pada Pulau “U” nantinya.

            Menurut keterangan Ali Fahmi (2008) dan wawancara dengan Mohd. Afiah (2019) pada tahun 1616 Masehi Tengku Khalillullah dan Putri Meulue beserta rombongan bertolak dari Pelabuhan Ulee Lheue menuju Pulau “U” dengan isak tangis dan langkah yang berat di hati Putri Meulue meninggalkan istana dan keluarga Sultan yang sudah akrab dan sangat berjasa kepada dirinya yang telah menjadikan ia menjadi anak yang terdidik dan memiliki kepribadian yang santun. Dalam tulisan Ali Fahmi (2008) keberangkatan Tengku Khalilullah bersama istri dan rombongan dilepas dengan upacara resmi kerajaan oleh Sultan Iskandar Muda, dan pada kesempatan itu Sultan memberikan pesannya agar dapat dipatuhi dan dilaksanakan dengan berhati-hati selama di pulau “U.”

            Sultan juga mengingatkan bahwa tantangan dan perjuangan yang akan dihadapi tidaklah mudah. Akan banyak mengursan tenaga, waktu, pikiran, dan kesabaran. Namun, dengan niat yang ikhlas dan pribadi yang tulus insya Allah akan dibukakan jalan serta diberikan kemudahan nantinya. Sultan pun kemudian berpesan kepada Tengku Khalilullah dan Putri Meulue serta rombongan sebagai berikut:

1.     Tengku beserta rombongan mulai menyisir pantai dari bagian Barat Pulau Simeulue, atau daerah Kecamatan Alafan saat ini, kemudian teruskan ke arah tempat kelahiran Putri Meulue bagian tengah pulau “U” nanti di sanalah tengku aktif dan berdakwah tentang Agama Islam, namun daerah tersebut Tengku dan Putri Meulue harus berhati-hari karena ada seorang raja yang berkuasa di daerah itu.

2.     Selanjutnya satu armada pengawal tengku diusahakan bergerak dari arah Timur sebelah Pulau-Pulau Banyak terus menyusuri pantai Timur Pulau Simeulue dan terus ke Barat untuk melancarkan dakwah islamiah.

3.     Kemudian amanat terakhir dari Sultan adalah meminta kepdaa Tengku Khalilullah untuk berdakwah dilaksanakan dengan lemah lembut dan tidak dengan kekerasan berdaklah dengan terarah karena sebab kalau dengan kekerasan pekerjaan akan gagal dan terbengkalai.

            Setelah bertolak dari Pelabuhan Ulee Lheue, Tengku Khalilullah dan Putri Meulue beserta dengan rombongan berlayar menuju Pulau “Oe,” mereka berangkat setelah menunaikan shalat ashar atau sekitar pukul 17.00 WIB dari Pelabuhan Ulee Lheue. Rombongan berangkat dengan dua buah kapal, satu kapal dinahkodai oleh Tengku Khalilullah dan Putri Meulue dan satu buah kapal lainnya dipimpin pengawal utusan dari istana kerajaan.

            Kemudian selama satu malam diperjalanan, rombongan Tengku Khalilullah dan Putri Meulue terus berjuang hingga sampai menuju ke Pulau “U” yaitu pulau kampung kelahiran Putri Meulue. Setelah hampir 12 jam berlayar dari kejauhan telah tampak pulau “U” oleh Tengku Khalilullah dan Putri Meulue. Semangat dan rasa juang mereka kian bertambah karena tujuan yang mereka jalankan sudah terlihat. Perjuangan yang melelahkan rasanya terbalaskan melihat pesisir Pantai Kepulauan Simeulue yang begitu indah dan menakjubkan. Tengku Khalilullah dan rombongan pun terkagum-kagum melihat keindahan pesisir pantai Pulau “U” saat itu.

            Pantainya berkilau di bawah sinar matahari yang hangat, dan air lautnya berkilauan dengan nuansa biru dan hijau yang memikat. Di sepanjang garis pantai ini, pohon-pohon kelapa berjejer rapi, dengan daun-daunnya yang lebar dan hijau muda berayun lembut ditiup angin laut. Kelapa-kelapa yang melambai-lambai di tepi pantai menambahkan pesona alami yang khas.

            Beberapa kelapa telah jatuh ke pasir halus, memberikan kontras warna yang menarik antara hijau muda daun kelapa dan putih bersihnya pasir pantai. Tidak hanya pemandangan yang mempesona, tetapi kehidupan laut yang melimpah juga menghiasi pesisir pulau ini. Di bawah permukaan air, terumbu karang yang indah dan beragam warna menjadi rumah bagi berbagai jenis biota laut, mulai dari ikan-ikan berwarna-warni hingga karang-karang yang menakjubkan. Dengan keindahan alamnya yang memikat dan suasana yang tenang, pesisir pulau “U” ini adalah tempat yang sempurna untuk melarikan diri dari hiruk pikuk kota dengan menikmati kedamaian serta keindahan alam yang memukau serta asri.

 

7.   Penyerangan Perompak Panglima Marhabib

            Saat rombongan Tengku Khalilullah dan Putri Meulue mulai mendekati pesisir pantai Simeulue bagian Barat tiba-tiba dari kejauhan mendekat satu buah kapal besar menuju arah kapal rombongan Tengku Khalilullah dan Putri Meulue. Tampak awak kapal melaporkan kepada Tengku Khalilullah dan Putri Meulue bahwa terlihat ada kapal yang mendekati mereka. Mendengar kabar itu, Tengku Khalilullah dan Putri Meulue menyampaikan tetap tenang dan akan berusaha mengajak dialog anak buah kapal yang sedang mendekat itu.[14]

            Tidak berselang lama, kapal itu kemudian langsung merapat ke rombongan kapal Tengku Khalilullah dan Putri Meulue, dan keluarlah 5 orang dengan pakaian seperti perompak dan menghunuskan pedang kepada rombongan Tengku Khalilullah dan Putri Meulue disertai dengan ucapan ancaman untuk segera meninggalkan kapal tersebut dan menyerahkan segala barang bawaan mereka.

            Mendengar ucapan ancaman itu Tengku Khalilullah dan Putri Meulue kemudian mengajak mereka dialog untuk berbicara baik-baik. Bahkan Tengku Khalilullah dan Putri Meulue menawarkan pilihan, jika memang perompak tersebut sangat membutuhkan makanan dan bekal, maka Tengku Khalilullah dan Putri Meulue bersedia untuk membagikan bekal kepada mereka. Mendengar ucapan Tengku Khalilullah dan Putri Meulue pimpinan perompak itu kemudian berkata “Akulah Panglima Marhabib penguasa lautan tidak ada tawar menawar denganku, jika tidak dipenuhi permintaanku, maka bersiaplah untuk mati, segera tinggalkan kapal ini meloncatlah jika tidak maka pedang ini akan kulibaskan kepada kalian semuanya.”

            Mendengar jawaban pimpinan perompak itu para pengawal kerajaan yang tergabung dalam rombongan Tengku Khalilullah dan Putri Meulue kemudian menghibaskan pedang mereka dan berkata “Satu Langkah saja engkau maju mendekati Tengku Khalilullah dan Putri Meulue maka tamatlah riwayat mu.” Mendengar jawaban itu Panglima Marhabib kemudian tertawa dan menjawab “Pedang yang engkau hunuskan itu tidak ada gunanya denganku.” Setelah itu, Tengku Khalilullah kemudian menjawab “Wahai tuan kami datang hendak silaturrahmi, kami bukan ingin mencari masalah, jika memang tuan menginginkan bekal kami, maka ambillah dan segeralah tinggalkan kapal kami” namun, Panglima Marhabib tidak menyetujui kesepakatan itu, melainkan ia juga meminta mereka angkat kaki dari kapal itu bahkan meminta Putri Meulue untuk diangkat ke kapalnya.

            Mendengar jawaban itu, Tengku Khalilullah kemudian memberikan saran “Kalaulah memang demikian permintaan mu tuan, kami mohon maaf tidak dapat kami penuhi, namun untuk mencegah banyaknya pertumpahan darah, cukuplah engkau dan aku yang berhadapan jika engkau bisa menjatuhkan padangku, maka silahkan ambil dan ku turuti permintaan mu” mendengar itu kemudian Panglima Marhabib menerima tantangan Tengku Khalilullah, ia langsung menghunuskan pedangnya kemudian menyerang Tengku Khalilullah dengan sekuat tenaga.

            Di atas kapal tersebut, rombongan dan anak buah kapal menyaksikan pertarungan Tengku Khalilullah dan pimpinan perompak yaitu, Panglima Marhabib. Namun, atas izin Allah Swt. Panglima Marhabib tidak mampu menjatuhkan pedang Tengku Khalilullah dari tangannya, ia juga berusaha menyerang Tengku Khalilullah namun tetap bisa ditepisnya. Sampai kemudian Panglima Marhabib berpura-pura mengalah. Namun, pada saat Tengku Khalilullah lengah ia berusaha menyerang, akan tetapi saat itu juga mampu ditepis bahkan pedang Panglima Marhabib dapat ditepis dan terlempar ke laut.

            Kondisi Panglima Marhabib terpojok ia berpikir bahwa itulah akhir hayatnya karena berusaha menyerang Tengku Khalilullah dari belakang. Akan tetapi, Tengku Khalilullah justru memaafkan Panglima Marhabib dan memeluknya serta berkata “Kita adalah saudara hentikan ini semuanya dan mulailah hidup di jalan yang diridhoi Allah Swt.” Mendengar perkataan itu, kemudian Panglima Marhabib tidak kuasa menahan tangis ia berlutut dihadapan Tengku Khalilullah dan Putri Meulue kemudian ia meminta maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatannya.[15]

            Ia juga memohon kepada Tengku Khalilullah dan Putri Meulue untuk menjadi bagian dari rombongannya dan berjanji sepenuh hati akan mengikuti apa yang sedang diperjuangkan oleh Tengku Khalilullah dan Putri Meulue.   Mendegar ucapan Panglima Marhabib, Tengku Khalilullah dan Putri Meulue sangat bersyukur dan legah hatinya karena bertambah personal rombongan mereka. Perjalanan pun kemudian mereka lanjutkan, bertambahnya rombongan mereka dengan Panglima Marhabib dan anak buahnya menambah pasukan Tengku Khalilullah dan Putri Meulue semakin banyak. Kemudain Tengku Khalilullah dan Putri Meulue banyak mendapatkan informasi dari Panglima Marhabib karena dia cukup mengetahui keadaan pesisir pantai Pulau “U”

            Panglima Marhabib yang kemudian menjadi penunjuk arah mereka. Sesuai saran dari sultan bahwa, rombongan mulai bergerak dari arah ujung Barat Pulau “U.”    Waktu berjalan dengan cepat rombongan pun mulai mendekati perairan Ujung Barat Pulau “U” Tengku Khalilullah dan Putri Meulue beserta dengan rombongan pun bersandar mulai dari pesisir pantai Alafan atau tepatnya di Pulau Abui kemudian berlayar kembali dan menepi di perairan Desa Lewak. Setelah itu, rombongan pun memberikan beberapa helai kain kepada masyarakat disekitar itu untuk menutup aurat mereka dan menanam beberapa pohon kelapa di pesisir pantai Alafan.

            Menurut beberapa informasi dari narasumber Mohd. Afiah, Salfiadis, dll. Setelah proses penanaman kelapa selesai rombongan pun baru kemudian bertolak menuju Mata Bano Teluk Simeulue tepatnya di Desa Latak Ayah Kecamatan Simeulue Cut dan dari daerah ini dimulai penyebaran Agama Islam pertama kali secara terbuka yang dilakukan oleh Tengku Khalilullah dan Putri Meulue kepada penduduk setempat yang mendiami wilayah itu.

 

8.     Tengku Khalilullah Tiba di Tanah Kelahiran Putri Meulue dan Mulai Berdakwa

            Kedatangan rombongan Tengku Khalilullah bersama istri di Teluk Simeulue secara diam-diam telah didengar oleh Raja Songsong Bulu yang tinggal di Bukit Gunung Lahapur di Desa Kuta Padang. Dia merupakan raja yang berkuasa di daerah Simeulue saat itu. Mendengar kabar dari masyarakatnya yang tinggal diperairan Teluk Simeulue, bahwa telah bersandar beberapa rombongan kapal pendatang baru. Raja Songsong Bulu langsung memerintahkan pengawalnya untuk memastikan kebeneraan berita itu. Tidak lama kemudian, pengawalnya datang memberikan kabar kepada Raja Songsong Bulu bahwa benar berita tentang kedatangan rombongan orang tak dikenal masuk wilayah mereka.

            Kemudian pengawalnya juga menyampaikan bahwa ada salah seorang di antara mereka yang mengeluarkan suara aneh dari dalam kapal seperti hendak memanggil dan melaksanakan sesuatu. Mendengar informasi dari pengawalnya Raja Songsong Bulu langsung bergegas mengajak pengawalnya untuk bersama-sama melihat rombongan yang baru tiba itu. Ia juga meminta untuk pengawalnya segera mengusir mereka dan melempar mereka dengan batu atau ranting kayu agar kapal mereka tidak merapat di perairan Teluk Simeulue saat itu.

            Para pengawal itu kemudian melaksanakan perintah Raja Songsong Bulu yaitu menghujani rombongan kapal Tengku Khalilullah dan Putri Meulue dengan lemparan batu dan kayu agar mereka segera melarikan diri dari pesisir pantai Teluk Simeulue. Namun, dari dalam kapal terdengar suara seorang perempuan yang membuat mereka terkejut karena suara perempuan itu meminta tolong dengan bahasa Simeulue yang fasih kepada mereka. Mendengar ucapan itu pun pengawal itu kemudian menghentikan tindakan mereka dan melihat situasi dengan memperthatikan ke arah kapal dengan penasaran siapa sebenarnya yang ada di dalam kapal tersebut. Mereka meyakini bahwa itu merupakan salah satu saudara mereka yang berada di dalam kapal tersebut.

            Tidak lama kemudian sampailah Raja Songong Bulu di Teluk Simeulue. Ia mendengarkan laporan dari pengawalnya bahwa ada salah satu di antara mereka yang berbicara dengan bahasa penduduk setempat. Setelah berhenti aksi penyerangan itu kemudian Tengku Khalilullah mengumandangkan azan dan Raja Songsong Bulu menyaksikan suara aneh itu terdengar sangat kuat sekali dari dalam kapal. Karena merasa penasaran, dengan laporan itu Raja Songsong Bulu pun bersama dengan pengawalnya mendekati kapal itu dan menegur mereka untuk segera keluar dari dalam kapal, dan menanyakan apa maksud dan tujuan kedatangan rombongan itu.

            Suara aneh yang dimaksud oleh Raja Songsong Bulu dan pengawalnya saat itu ternyata panggilan azan yang dikumandangkan Tengku Khalilullah yang kala itu tibanya mereka di Teluk Simeulue telah memasuki waktu ashar.

 

                        Panggilan azan inilah yang kemudian sontak membuat warga disekitar itu merasa aneh dan kebingungan, penasaran apa sebenarnya yang terjadi? Dan dari kejauhan tampak seseorang sedang berdiri di ujung kapal dan mengumandangkan suara tersebut. Penduduk sekitar itu beramai-ramai mendekati kapal rombongan Tengku Khalilullah dan Putri Meulue karena penasaran panggilan azan yang menyejukkan hati masyarakat di sekitar itu.

            Raja Songsong Bulu memerintahkan pengawalnya untuk segera naik ke atas kapal rombongan Tengku Khalilullah dan Putri Meulue. Sesampainya di atas kapal pengawal Raja Songsong Bulu langsung dihadang Panglima Marhabib yang sudah menunggu mereka, sempat terjadi ketegangan di antara mereka sebelum akhirnya didamaikan oleh Tengku Khalilullah. Tengku Khalilullah kemudian memerintahkan kepada Panglima Marhabib untuk tidak melakukan tindakan kekerasan fisik.

            Tengku Khalilullah sangat berhati-hati berhadapan dengan Raja Songsong Bulu yang terkenal dengan keperkasaannya. Tidak lama berselang Tengku Khalilullah dan Putri Meulue beserta rombongan keluar dari dalam kapal dan menemui rombongan Raja Songsong Bulu beserta dengan pengawalnya.   Masyarakat di sekitar itu, begitu takjub melihat salah seorang perempuan di antara mereka yang begitu cantik jelita dialah Putri Meulue.

            Tengku Khalilluah kemudian meminta kepada istrinya untuk menyampaikan niat dan tujuan mereka mendatangi pulau Simeulue kala itu. Putri Meulue pun kemudian menyampaikan dalam bahasa daerah nenek moyang Putri Meulue bahasa Simolol yang masih dikuasainya dengan fasih dan pun setelah itu ia menyampaikan kepada penduduk setempat “Wahai ame sagalo haom o, ami fesang ere alek niat ma’i singa mare’en, dan tujuan ma’i pun singa mare’en, de’o ere na ere molo ao asli isin tenek ere, cuman ang ao raneng meise marantao lentok mek istana Kerajaan Aceh, dumaar ere ami fesang mangabek sao amanah singa mulia, singa maha agung, yaitu amanah syiar agamo Islam. Oleh karano ie, sagalo ame saudarong o miizinkan ami manjalankan niat baek so ere dan langkah baek mai ere.”

            Diterjemahkan dalam bahasa Indonesia “Wahai saudaraku, kami datang dengan niat baik, dan tujuan yang baik, saya merupakan penduduk asli di sini yang kemudian merantu ke istana kerajaan, saat ini kami datang ingin membawa sebuah amanah yang begitu agung yaitu amanah syiar agama Islam. Oleh karena itu, wahai Saudaraku perkenankanlah niat dan langkah baik kami ini.” Mendengar ucapan Putri Meulue berbicara dengan fasih bahasa Simolol, semua terkagum-kagum, heran, dan kebingungan termasuk rombongan Raja Songsong Bulu dan pengawalnya.

            Tidak disangka-sangka ternyata Putri Meulue merupakan orang yang lahir di pulau Simeulue dan fasih berbahasa Simeulue saat itu. Mendengar ucapan Putri Meulue Raja Songsong Bulu tetap menolak permintaan dari Putri Meulue, ucapan Putri Meulue hanya omong kosong belaka baginya. Raja Songsong Bulu meyakini kedatangan mereka hanya akan merebut tahta dan kekuasaannya. Ia pun menentang apa yang disampaikan Putri Meulue.

            Raja Songsong Bulu kemudian menyampaikan kepada pengawalnya untuk segera mengusir rombongan itu terkecuali Putri Meulue. Raja Songsong Bulu meminta Putri Meulue ditawan dan tetap berada di pulau. Mendengar ucapan itu, Putri Meulue kemudian menyampaikan kepada Tengku Khalilullah bahwa raja meminta mereka pergi terkecuali dirinya.

            Kemudian Tengku Khalilullah meminta kepada Putri Meulue untuk menyampaikan kembali bahwa mereka hanya niat berdakwah dan bukan mengambil kekuasaan Raja Songsong Bulu. Setelah itu, Putri Meulue kembali menyampaikan seperti pesan Tengku Khalilullah bahwa kedatangan mereka hanya ingin berdakwa mengajak kepada kehidupan yang lebih bermartabat. Tidak ada niat selain dakwah, apalagi merebut kekusaan dan tahta Raja Songsong Bulu saat itu.

            Situasi yang menegangkan antara para pengawal Raja Songsong Bulu dan pengawal rombongan Tengku Khalilullah dalam posisi siap bertempur antara hidup dan mati. Di sela-sela dialog antara Putri Meulue dan Raja Songsong Bulu, Panglima Marhabib kemudian menyampaikan kepada Tengku Khalilullah bahwa untuk segera menyerang dan membunuh para pengawal Raja Songsong Bulu. Begitu juga sebaliknya para pengawal Raja Songsong Bulu siap bertarung bertumpah darah demi mempertahankan kekuasaan raja mereka. Situasi yang semakin mencekam akhirnya Raja Songsong Bulu meminta untuk bertarung satu lawan satu.

            Ia menantang Tengku Khalilullah bertarung adu kesaktian. Siapa yang memenangkan pertandingan itu, maka wajib mematuhi permintaan yang berhasil memenangkannya. Raja Songsong Bulu begitu yakin dengan kemampuannya ia menentang Tengku Khalilullah dengan memberikan tawaran adu kesaktian. Tawaran itu kemudian disetujui oleh Tengku Khalilullah. Dengan niat yang baik dan oleh karena ingin berjuang di jalan Allah Swt. Tengku Khalilullah yakin semua akan diberikan jalan oleh-Nya. Raja Songsong Bulu pun kemudian menyampaikan pertandingan itu dimulai dengan memasak nasi di dalam air laut. Para masyarakat dan rombongan terkejut mendengar ucapan Raja Songsong Bulu.

            Panglima Marhabib pun menyampaikan kepada Tengku Khalillullah bahwa ini tidak masuk akal, tidak mungkin ada pertandingan semacam itu. Namun, Tengku Khalilullah meyakini bahwa akan ada jalan yang diberikan Allah Swt. Tidak lama setelah itu, pengawal Raja Songsong Bulu pun datang membawa dua buah priuk besar dan diletakkan di hadapan Raja Songsong Bulu dan Tengku Khalilullah. Saat itu juga dimulailah lomba memasak nasi di dalam air. Dengan waktu yang telah ditentukan Raja Songsong Bulu kemudian menyampaikan kepada pengawalnya untuk diperiksa nasinya.

            Raja Songsong Bulu memang berniat dari awal ingin mencelakakan Tengku Khalilullah. Ia membuat aturan pertandingan seenaknya. Putri Meulue bersama dengan rombongan pun begitu gelisah karena lomba yang dipertandingkan sangat tidak masuk akal. Namun, atas izin Allah Swt., masakan yang dibuat oleh Tengku Khalilullah masak dan siap dihidangkan. Melihat kejadian itu pun sontak semua yang menyaksikan kejadian itu heran dan takjub melihat hasil dari pertandingan antara Raja Songsong Bulu dan Tengku Khalilullah. Masakan Tengku Khalilullah dan Raja Songsong Bulu dua-duanya nasinya masak dan siap dihidangkan.

            Raja Songsong Bulu pun tidak habis akal, ia menyampaikan bahwa pertandingan adu ilmu kesaktian belum selesai. Ia meminta kepada Tengku Khalilullah untuk melaksanakan lomba berikutnya yaitu memasak air di atas pohon. Mendengar ucapan Raja Songsong Bulu para pengawal Tengku Khalilullah pun angkat bicara bahwa lomba semacam ini hanya jebakan dan tidak layak dilombakan.

            Namun, Raja Songsong Bulu tetap bersih keras jika lomba tidak diikuti Tengku Khalilullah maka dianggap kalah dan Tengku Khalilullah harus menuruti permintaan dari Raja Songsong Bulu. Dengan penuh ketaqwaan Tengku Khalilullah kemudian meminta para pengawalnya untuk bersabar. Sambil bermunajat kepada Allah Swt. Tengku Khalilullah kemudian menyepakati lomba yang ditawarkan oleh Raja Songsong Bulu yaitu memasak air di atas pohon.         Tidak selesai sampai di situ, lomba dianggap selesai jika seseorang mampu memasak air hingga mendidih sementara apinya berada di bawah pohonnya. Dengan waktu yang tidak disepakati Raja Songsong Bulu kemudian tiba-tiba menyampaikan bahwa waktu lomba telah selesai dan pengawalnya diminta untuk menurunkan kuali yang berisi air panas itu. Dengan izin Allah air yang dimasak Tengku Khalilullah mendidih begitu juga dengan Raja Songsong Bulu. Semua masyarakat dan rombongan termasuk pengawal terpukau akan keahlian ilmu dari keduanya.

            Bahkan menurut pengawal Raja Songsong Bulu air dalam kuali Tengku Khalilullah jauh lebih panas. Melihat kejadian itu Raja Songsong Bulu begitu geram dan mengepal tangannya begitu kuat. Tengku Khalilullah kemudian memberikan pesan kepada istrinya Putri Meulue untuk menyampaikan pertandingan sudah selesai dan dari semua yang diminta oleh Raja Songsong Bulu telah berhasil dipenuhi. Mendengar itu kemudian Putri Meulue menyampaikan kepada Raja Songsong Bulu bahwa mereka sudah mengikuti pertandingan dan adu kesaktian. Putri Meulue meminta untuk berdamai dan memohon kepada Raja Songsong Bulu untuk mengizinkan tujuan dan hajat mereka di Pulau Simeulue.

            Para pengawal Raja Songsong Bulu pun saat itu mulai melunak hatinya seperti lebih condong percaya kepada Tengku Khalilullah karena dianggap lebih sakti. Masyarakat pada saat itu masih primitive seseorang yang lebih sakti maka akan sangat mudah mereka terpangaruh dan percaya bahwa itu merupakan raja baru mereka. Melihat situasi semakin tidak menguntungkan baginya, Raja Songsong Bulu kemudian meminta kepada Tengku Khalilullah untuk melaksanakan lomba terakhir.

            Lomba terakhir atau yang ketiga ini merupakan lomba final. Ia meminta kepada Tengku Khalilullah jika berhasil memenangkannya maka Raja Songsong Bulu mengizinkan Tengku Khalilullah melaksanakan niat dan tujuan mereka datang ke Simeulue. Adapun lomba yang terakhir itu kemudian disebutkan oleh Raja Songsong Bulu mencari keberadaan kediamannya. Raja Songsong Bulu menyampaikan kepada Tengku Khalilullah untuk mencari keberadaannya rumahnya.

            Tidak sampai di situ, waktu yang diberikan Raja Songsong Bulu kepada Tengku Khalilullah hanya dari pukul 01.00 dini hari sampai dengan sebelum fajar terbit, dan kedatangan Tengku Khalilullah tanpa pengawalan, ia harus datang sendiri dengan tangan kosong tanpa seorang pun yang mendampinginya termasuk istrinya sendiri. Mendengar ucapan Raja Songsong Bulu para pengawal Tengku Khalilullah beserta dengan Putri Meulue menolak dan meminta untuk tidak dilaksanakan lomba tersebut.

            Namun, Raja Songsong Bulu tetap pada pendiriannya, jika tidak dipenuhi permintaannya maka dianggap kalah dan harus angkat kaki dari wilayah kekuasaannya. Tantangan Raja Songsong Bulu pun disetujui oleh Tengku Khalilullah dengan mengucapkan “Insya Allah.” Di malam yang telah ditentukan, Tengku Khalilullah pun berangkat dan meminta izin kepada Putri Meulue dan pengawalnya. Beberapa pengawalnya pun menawarkan diri untuk mendampingi Tengku Khalilullah. Namun, Tengku Khalilullah menolak dan meminta untuk tetap berada di rumah dan membiarkan ia sendiri menemui dan mencari tahu kediaman Raja Songsong Bulu.

            Putri Meulue begitu khawatir dengan nasib suaminya yang berangkat di tengah malam gelap gulita. Pada malam itu Raja Songsong Bulu begitu yakin bahwa Tengku Khalilullah tidak akan mungkin berhasil. Karena sepanjang jalan menuju kediamannya telah ia siapkan begitu banyak perangkap dari ilmu sihirnya. Raja Songsong Bulu dengan kesaktiannya ia turunkan hujan, badai, petir, dan kilat yang saling sahut-sahutan di malam itu.

            Tengku Khalilullah melihat situasi malam itu tidak sedikit pun membuat gentar dirinya, ia berdo’a kepada Allah Swt. untuk diberikan jalan dan keteguhan hatinya. Ia berjalan selangkah demi selangkah menuju kediaman Raja Songsong Bulu. Di tengah malam yang gelap gulita, dan keadaan cuaca yang begitu hiruk-pikuk, hujan, badai, petir, dan kilat saling menyambar di tengah perjalanan Tengku Khalilullah. Ia melangkah dengan pasti bahwa langkah dan perjalanan yang sedang ia tempuh merupakan petunjuk dari Allah Swt.

            Malam yang sangat menakutkan kala itu, Putri Meulue dan pengawal Tengku Khalilullah begitu mengkhawatirkan keselamatan Tengku Khalilullah. Di sisin yang lain di tengah malam gelap gulita terasa begitu menyenangkan bagi Raja Songsong Bulu karena menganggap telah mengalahkan Tengku Khalilullah.

            Namun, tiba-tiba di tengah malam gelap gulita itu ada yang mengetuk pintu rumahnya, mendengar itu Raja Songsong Bulu terkejut dan kebingungan siapa yang mengetuk pintu rumahnya di tengah malam itu. Ia masih belum percaya bahwa Tengku Khalilullah akan berhasil menemukan kediamannya. Raja Songsong Bulu pun bergegas menuju depan rumahnya, ia pun terkejut atas izin Allah Swt. ternyata tepat dihadapanya Tengku Khalilullah sembari mengucapkan “Assalamualaikum.”

            Raja Songsong Bulu tidak dapat mengeluarkan kata-kata, karena wajah Tengku Khalilullah begitu bercahaya dan sorobannya begitu menyilaukan mata dengan panturan cahaya yang menjadi penerangnya di malam itu. Dan yang lebih mengherankan Raja Songsong Bulu kala itu, Tengku Khalilullah tidak tampak basah satu helai kain pun di badan dan tubuhnya. Sehingga, saat itu juga Raja Songsong Bulu mengakui kehebatan Tengku Khalilullah dan menyetujui Tengku Khalilullah menyebarkan agama Islam di Pulau Simeulue. Raja Songsong Bulu pun mengakui bahwa dirinya kalah dalam adu kesaktian dengan Tengku Khalilullah.[17] 

            Setelah itu, Tengku Khalilullah meminta izin kepada Raja Songsong Bulu untuk pamit dari rumahnya dan kembali pulang ke teluk tempat bersandar kapal dengan istri dan rombongannya. Raja Songsong Bulu pun mengizinkan dan memberikan bekal tambahan kepada Tengku Khalilullah untuk pulang ke rumah. Tengku Khalilullah kemudian berterima kasih atas pemberian Raja Songsong Bulu, dan mengucapkan bahwa Raja Songsong Bulu tidak perlu khawatir, ia tetap dianggap seorang raja yang memimpin pemerintahan sedangkan Tengku Khalilullah yang menentukan hukum yang sesuai dengan syariat Islam yang berlaku di wilayahnya saat itu. Raja Songsong Bulu pun menyetujui kesepakatan itu dengan Tengku Khalilullah.

            Setibanya Tengku Khalilullah di pesisir pantai Teluk Simeulue, terdengar dari dalam kapal pengawalnya melaporkan bahwa Tengku Khalilullah sudah datang. Mendengar ucapan itu, Putri Meulue terharu hatinya ia segera turun dari atas kapal dan menjumpai suaminya. Dengan isak tangis di tengah suasana haru, karena ia begitu mengkwatirkan keadaan suaminya.

            Tengku Khalilullah pun berusaha menenangkan Putri Meulue dan menyampaikan kepada para pengawalnya bahwa Raja Songsong Bulu telah mengalah dan atas izin Allah Swt. Dia berhasil menemukan kediaman Raja Songsong Bulu dan telah juga mengizinkan penyebaran agama Islam di daerah itu. Para pengawal dan rombongan pun riang gembira mereka begitu bahagia mendengar kabar dari Tengku Khalilullah. Kemudian Tengku Khalilullah pun meminta untuk bersiap-siap melaksanakan shalat Subuh. Menurut cerita pulangnya Tengku Khalilullah dari kediaman Raja Songsong Bulu sudah memasuki waktu Subuh.

            Setelah berbagai tantangan dan rintangan yang dihadapi Tengku Khalilullah dan Putri Meulue beserta rombongan kini membuahkan hasil yang membahagiakan. Sejak saat itu, mereka mulai menyusun strategi untuk berdakwa syiar Agama Islam ke penduduk Simeulue dan sekitarnya. Para pengawal dalam rombongan Tengku Khalilullah dan Putri Meulue pun ikut serta menyusun strategi agar dakwah Islam mudah diserbakan dan dapat diterima dengan baik penduduk setempat.


9.     Khalilullah dan Putri Meulue Mulai Berdakwa

            Saat itu juga, Tengku Khalilullah dan Putri Meulue mulai menjalankan dakwahnya. Misi pertama yang dilakukan Tengku Khalilullah dan Putri Meulue adalah menyampaikan kepada masyarakat tentang pakaian yang menutup aurat. Masyarakat setempat saat itu pakaiannya hanya seadanya. Mereka hanya menggunakan pakaian Inodo. Inodo merupakan pakaian terbuat dari kulit pohon.[18]

            Tulisan Taha (1998:44) menyatakan bahwa Inodo salah satu kekayaan budaya Indonesia yang dipercaya telah ada ribuan tahun yang lalu. Nenek moyang bangsa Indonesia hidup berselaras dengan alam. Salah satu contohnya dapat dilihat dari terciptanya kulit kayu sebagai bahan pakaian. Hutan hujan tropis yang tumbuh subur di Kepulauan Nusantara menjadi sumber kehidupan masyarakat yang hidup di sekitarnya. Masyarakat Simeulue saat itu dikenal dengan nama pakaian “bekbek baerak” yang digunakan masyarakat kuno Simeulue untuk menutup badan mereka. Melihat situasi itu Tengku Khalilullah dan Putri Meulue pun berusaha memberikan bekal kain yang dibawa dari istana kerjaan Aceh dan dibagikan kepada masyarakat sekitar untuk memakai pakaian yang menutup aurat.

            Masyarakat pun dengan bahasanya yang santun Putri Meulue dapat dengan mudah dicerna masyarakat sekitar waktu itu. Setelah proses pembagian pakaian kepada masyarakat sekitar dilakukan, Tengku Khalilullah dan Putri Meulue mengajarkan kepada masyarakat sekitar tentang tauhid dan bersyahadat.

            Tengku Khalilullah dan Putri Meulue bersama dengan rombongan mendatangi masyarakat dari satu rumah ke rumah yang lain. Di sinilah sebuah perjuangan besar dimulai oleh rombongan Tengku Khalilullah dan Putri Meulue, yang berani menantang arus dan berdakwah untuk menyebarkan ajaran Islam. Tengku Khalilullah dan Putri Meulue berusaha mengajarkan agama Islam tengah-tengah masyarakat dengan kepercayaan Animisme dan Dinamisme yang kuat saat itu.







 Referensi publish yang lain: 
  1. https://kabarliputan.com/2024/07/12/berhasil-tulis-buku-guru-penggerak-abdya-serahkan-karyanya-ke-kepala-bgp-provinsi-aceh/
  2. https://www.detikacehnews.id/2024/07/guru-penggerak-smpn-2-abdya-serahkan.html?m=1
  3. https://suaraaceh.net/2024/07/11/guru-penggerak-asal-abdya-serahkan-buku-karyanya-kepada-kepala-bgp-aceh/
  4. https://suaraaceh.net/2024/07/11/guru-penggerak-asal-abdya-serahkan-buku-karyanya-kepada-kepala-bgp-aceh/
  5. https://www.humannesia.com/2024/07/berhasil-tuliskan-buku-guru-penggerak-abdya-serahkan-karya-kepada-kepala-bgp-provinsi-aceh.html
  6. https://habapublik.com/2024/07/11/guru-penggerak-asal-abdya-serahkan-buku-karyanya-kepada-kepala-bgp-aceh/
  7. https://potretonline.com/2024/07/guru-penggerak-abdya-berhasil-menulis-buku/
  8. https://www.acehground.com/news/guru-penggerak-dari-abdya-serahkan-karyanya-kepada-kepala-bgp-provinsi-aceh/?swcfpc=1
  9. https://acehsiana.com/guru-penggerak-dari-abdya-serah-buku-karyanya-kepada-kepala-bgp-aceh/
  10. https://aceh.tribunnews.com/2024/07/12/guru-penggerak-dari-abdya-tuliskan-buku-awal-mula-masuknya-islam-ke-simeulue-serahkan-ke-bgp-aceh

0 Komentar