![]() |
| Sejarah Asal-Usul Suku di Simeulue |
Simulations.ID | Tulisan Leupia (1981:30), menyebutkan penduduk asli di Pulau Simeulue ditemukan oleh sekelompok perantau yang berasal dari Sumatera bagian utara dan menjadi penduduk pertama yang dikenal dengan suku Lasali (Fihau) merekalah yang menjadi penduduk penganut animisme dan dinamisme pertama di Simeulue. Tulisan Linde, Ph. van Der. (1920:10) suku Lasali, dalam legenda Simaloer menyatakan bahwa suku Lasali yang juga bertubuh raksasa (kekar) mendiami pertama di pulau Simeuluë. Ada banyak legenda yang beredar tentang keluarga raksasa ini di Simaloer, namun tidak banyak yang mendapat tempat dalam catatan penelitian.
Tulisan Muhammad As’ad (1984:13), menyebutkan ada dua rombongan yang tergolong sebagai pendatang pertama ke pulau Simeulue. Pertama, rombongan yang dipimpin oleh Lasenga, menempati daratan Lakoen, Bano (Simeulue Tengah), dan Teupah mereka dinamakan orang Lasali. Kedua, rombongan yang dipimpin oleh Lamborek, menempati daratan Salang, Sigulai (Simeulue Barat), dan Alafan. Mereka di panggil dengan sebutan orang Lafung Lasal. Selain itu, sejarah lisan (oral history) dari hasil wawancara dengan tokoh-tokoh sejarawan Simeulue, Mohd. Afiah (2017), menyampaikan bahwa rombongan pertama yang memiliki kepercayaan animisme dan dinamisme datang dari daratan Sumatera tepatnya daerah Mandailing. Kedatangan penduduk ini dipimpin oleh Gameha. Gameha tiba di Simeulue diperkirakan pada abad ke-13 atau berkisar tahun 1201-1300 masehi dan bermarga Nasution. Nasution adalah salah satu marga Batak Mandailing yang berasal dari kawasan Mandailing Godang. Hingga tiba di Simeulue mereka dinamakan dengan suku baru yang disebut Lasali yang mendiami pesisir pantai Luangkak, Simeulue Cut.
Tulisan Sarifa Rahma (2022:18), menyebutkan bahwa suku pendatang pertama di Simeulue disebut Suku Lasali yang berarti Suku Asli yang ada di pulau Simeulue. Kata Lasali tersebut berasal dari kata “asal” yang artinya “pendatang pertama” di Kepulauan Simeulue. Tulisan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dalam Proyek Invetarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Aceh (1982:35) yang disusun oleh Syamsuddin Mahmud, dkk. menjelaskan bahwa kebanyakan yang datang ke daratan Aceh termasuk daratan Simeulue merupakan migrasi dari Sumatera Utara, yang tercatat hasil sensus penduduk tahun 1971 mencapai 58.724 orang, dan pendatang dari Sumatera Barat mencapai 5.097 orang. Rombongan ini datang ke daratan Aceh dan kepulauan Simeulue secara bertahap-tahap, mulai dari pendatang yang masih menganut kepercayaan Hindu hingga pendatang yang telah memeluk agama Islam.
Tulisan Edw. Jacobson dalam esainya “Pulau Simaloer” di Tijds. Jurnal Belanda (1917:265) menyatakan dapat dipastikan bahwa di mana-mana penduduknya Simaloer terbagi atas sukko-sukko, bahwa anak-anak menjadi milik sukko bapak, dan perempuan mengikuti laki-laki. Nama suku yang terkenal adalah, Lasali atau Bihau, Dagang, Bölawa, Chaboe, Daawa, Dainang, Eabon, Bangawan, Lanteng, Abësi, dan Toefa. Setiap suku ada seorang datoek. Datoek merupakan kepala sukko atau disebut juga dengan kepala Pangoeloe. Di Simaloer terdiri dua pangoeloe dan satu lagi disebut malintang. Pangoeloe adalah primus inter pares (yang pertama di antara yang setara) atau setingkat raja dan dia mendapati bagian terbesar dari pendapatan lanskap (wilayah atau daerahnya). Puloe Simeuloer bahasa nasionalnya disebut Simoelul. Setiap sukko di Simaloer menggunakan bahasa pengantar Simoelul.
Para kepala sukko di Simaloer yang bergelar datoek pangoeloe itu dibawahi seorang datoek atau rajo dari koloni asing, yaitu datoek "Sukoe Dagang," yang memerintah di Kerajaan Banoe. Pemimpin kerajaan ini bersekongkol dengan orang-orang Aceh dan Minangkabau. Rajoe Kerajaan Banoe adalah orang yang suka memerintah. Dia sebagai orang yang bijaksana dihadapan datoek-datoek pangoeloe di Simaloer. Kedatangan orang suku asing Aceh ke Simaloer memandang rendah orang-orang pulau yang sederhana.
Orang Aceh kerja sama dengan orang-orang Sukko Dagang di Kerajaan Banoe dan memburu perempuan sederhana serta mengumpulkannya ke dalam kraal, kemudian menjualnya sebagai budak ke pantai. Hal ini terhenti setelah penduduknya benar-benar masuk Islam, namun mereka tetap mempertahankan rasa superioritasnya dan berkuasa serta menunjukkan kekuasaan di Kerajaan Banoe tersebut dalam tindakannya dihadapan para pembawa Islam itu.
Sehingga harus terlihat di mata pihak ketiga (orang yang mengislamkan itu) merekalah pemimpin dari Datuoek Sukkoe Dagang dan merupakan Raja Alam di Simaloer. Mereka juga mendapat pengakuan tertentu dari penduduk asli Lasali atau Bihau, Bölawa, Chaboe, Lanteng, Abësi, dan Toefa. Mereka datuoek Sukkoe Dagang menerima "sieureuc" upeti beras, yang dikumpulkan oleh penduduk asli pulau Simaloer yang sudah menikah dengan tarif 1 nali per pria dan per tahun yang diserahkan kepada Rajoe Banoe.
Selain itu, sejarah dan informasi lain juga menceritakan, hasil wawancara dengan tokoh sejarawan Simeulue, Salfiadis (2023), menyatakan bahwa kerajaan animisme dan dinamisme tertua dan pertama di Simeulue berada Lahapur Aie Padang Blang Kubangan, Desa Kuta Padang, Kecamatan Simeulue Cut.
Kerajaan ini bernama Inofalu yang dipimpin oleh Raja Beno yang merupakan kakek dari Songsong Bulu dan ayah dari Kalefu. Kerajaan Inofalu ini kemudian di masa Raja Songsong Bulu mencapai puncak kejayaannya dengan meningkatkan pengaruh kekuasaanya diseluruh pulau Simaloer. Setelah masuknya agama Islam oleh Tengku Khalilullah mengubah nama Kerajaan Inofalu menjadi Kerajaan Simolol. Pemberian nama Kerajaan Simolol diambil dari nama istrinya Putri Meulue, atau Putri Simaloer. Dengan berdirinya Kerajaan Simolol tahta kerajaan tetap dari turunan Raja Songsong Bulu sebagaimana perjanjian kedua belah pihak ketika bermusyawarah di gunung Lahapor yang disakikan oleh kepala Suku Dagang, Lasali, Habu, dan Bolawa (Ket. Datuk Nyak Sidih). Kerajaan Inofalu ini sebelumnya merupakan pendatang bersuku Dagang, dari daratan Melayu.
Pernyataan di atas diperkuat dengan tulisan Lettu Rajasani, Raja Deman, dan Lettu Mohd. Ris dalam buku Simeulue (Simolol) pada tahun (1975:1) menyatakan bahwa silsilah Raja Beno yang bersuku Dagang dari Lahapur Aie Padang Blang Kubangan. Kerajaan Inofalu didirikan oleh Raja Beno diperkirakan telah ada sejak abad ke-13 atau berkisar tahun 1250-1300. Daerah kekuasaan Raja Beno saat itu disebut dengan Maroes. Pusat kekuasaan Kerajaan Simolol di wilayah yang biasa disebut Bano. Wilayah Bano ini sebelumnya merupakan salah satu mukim di Simeulue Tengah, sebelum akhirnya memekarkan diri menjadi Kecamatan Simeulue Cut.
Tulisan Usman, dkk. (2023:17), dalam laporan penelitiannya menyebutkan bahwa masyarakat yang mendiami daratan pulau Simeulue pertama berada di Teluk Simeulue yang dipimpin seorang raja bernama Songsong Bulu. Mereka merupakan kelompok pendatang Sumatera yang membentuk suku baru yang disebut dengan suku Dagang dan Lasali.
Tulisan Aris Faisal Djamin dan Aufar Hidayat (2024:345) menyatakan bahwa pemimpin pertama yang benar-benar memerintah di pulau Simeulue adalah para pendatang bajak laut Melayu yang berasal dari Minangkabau bersuku Dagang dan menguasai sepanjang pantai wilayah Simeulue. Kedatangan bajak laut Melayu ini kemudian membentuk administratif wilayah pemerintahan pertama dan memerintahkan suku-suku yang ada di wilayah Simeulue serta menguasai daratan Simeulue yang berpusat di daerah yang biasa disebut masyarakat setempat daerah Bano.
Tulisan J.K. Koops Dekker dan G. Harmsen (1908) menyebutkan bahwa penduduk aslinya terbagi dalam beberapa kelompok yang berdatangan masing-masing membentuk suku atau marga, dan pencampuran antara suku ini membentuk suku baru, yang dikenal dengan suku Lasali (Fihau), suku Dagang, suku Bolawa, suku Habu (Khabu), Suku Lanteng, suku Habsi, suku Daawat, dan suku Toeva.
Sejarah yang lain menceritakan tentang alur kedatangan manusia di Simeulue, dalam tulisan Roth Loft dipublikasikan tahun 1880, menjelaskan bahwa di kepulauan sebelah Barat Sumatera terdapat pemujaan biawak yang ditemukan di Pulau Si-Maloer (Simeulue) dan hal yang serupa juga dilakukan di Kepulauan Mentawai.
Masyarakatnya menyembah roh bernama “Si-Akau,” yaitu iguana atau biawak. Kepercayaan mereka saat itu meyakini bahwa roh ini biasanya menjelma dalam iguana atau hewan lainnya. Ditinjau dari kepercayaan nenek moyang Simeulue tampak mencolok atau memiliki persamaan dengan kepercayaan yang dianut oleh nenek moyang penduduk kepulauan Mentawai. Sehingga timbul spekulasi ada kemungkinan kedatangan nenek moyang masyarakat Simeulue penganut kepercayaan anismisme dan dinamisme berasal dari sana.
Kepercayaan nenek moyang masyarakat Simeulue didominasi pada kepercayaan menyembah hewan-hewan yang dianggap sakral dan menyembah pohon-pohon besar. Ini adalah bagian dari sistem kepercayaan nenek moyang pulau Simeulue yang diyakini telah ada sebelum kedatangan agama Islam. Pohon-pohon besar juga dipandang sebagai tempat tinggal roh atau entitas spiritual yang patut dihormati dan diberi persembahan. Pohon-pohon tersebut seringkali dianggap sebagai tempat suci atau titik fokus dalam ritual keagamaan dan kegiatan spiritual lainnya. Praktik-praktik keagamaan ini tercermin dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari masyarakat Simeulue, dari kegiatan pertanian hingga perayaan budaya.
Upacara yang melibatkan penyembahan terhadap hewan-hewan atau pohon-pohon tertentu menjadi bagian penting dari siklus kehidupan dan kegiatan sosial masyarakat Simeulue saat itu. Namun, dengan masuknya Islam dan penyebarannya di Simeulue, sistem kepercayaan ini mengalami transformasi dan penggantian secara bertahap.
Ajaran Islam mengajarkan tentang keesaan Allah Swt. dan larangan terhadap penyembahan terhadap selain Allah Swt. Proses ini telah mempengaruhi budaya dan kepercayaan masyarakat Simeulue, meskipun beberapa unsur kepercayaan tradisional masih bertahan dalam bentuk yang termodifikasi.
Sebelum masuknya Islam, kepercayaan terhadap hewan-hewan atau pohon-pohon tertentu itu dianut oleh masyarakat yang migrasi ke pulau Simeulue dan mereka mendiami daratan yang disebut Bano, Sikhule, Koto, dan Lakoen. Kepercayaan itu melekat di tengah masyarakat Simeulue selama kurang lebih dua abad lamanya. Masyarakatnya sebelum Islam berkembang sangat fanatik dengan kepercayaannya saat itu. Setiap suku asli di Pulau Simeulue datang dan mengikuti kebiasaan serta kerpercayaan masyarakat yang telah menetap lebih awal di Simeulue.
Catatan ini juga menjelaskan tentang kepercayaan yang dianut oleh suku asli dari masyarakat Mentawai waktu itu bernama Sabulungan. Sabulungan adalah kepercayaan yang lahir karena acara ritualnya selalu menggunakan daun-daunan dan hewan-hewan yang dipercaya bisa menjadi perantara hubungan manusia dengan tuhan yang disebut dengan “Ulau Manua.” Lebih lanjut, catatan Roth Loft menjelaskan bahwa upacara “Ulau Manua” merupakan salah satu tradisi yang digunakan oleh nenek moyang Simeulue di daratan Simaloer yang memiliki keyakinan anismisme dan dinamisme sebelum Islam berkembang di Simeulue. Hal ini kemudian diyakini bahwa adanya kemungkinan asal usul nenek moyang Simeulue berasal dari daerah Mentawai termasuk dengan keyakinannya.
Kedatangan nenek moyang pulau Simeulue dilihat dari kepercayaan dan kebudayaannya saat itu memiliki kesamaan dengan nenek moyang di bagian pantai Barat Sumatera lainnya termasuk kepulauan Mentawai. Kehadiran kepercayaan animisme dan dinamisme ini mencerminkan kedalaman hubungan antara manusia dan alam di pulau Simeulue saat itu, serta warisan budaya yang kaya dan beragam dari perilaku nenek moyang Simeulue pada zaman dahulu. Kedatangan nenek moyang di Pulau Simeulue, seperti yang terlihat dari kepercayaan dan kebudayaannya pada masa itu, memiliki kesamaan dengan nenek moyang di bagian pantai Barat Sumatera lainnya.
Sehingga menimbulkan beberapa pendapat bahwa nenek moyang Simeulue memiliki hubungan kekerabatan dari aspek keturunan dengan masyarakat di sepanjang pantai Barat Sumatera lainnya. Tulisan Ali Fahmi (2008:9) disejarahkan Mohd. Afiah kepercayaan dan kebudayaan nenek moyang Simeulue merupakan kebudayaan yang dibawa oleh pendatang yang migrasi ke daratan Simeulue dengan membawa tradisi dan kepercayaan asal mereka. Akan tetapi, jika dilihat tradisi dan kepercayaan masyarakat Sumatera memang banyak memiliki perbedaan dengan masyarakat Simeulue pada saat itu. Timbul keyakinan bahwa kedatangan masyarakat Sumatera setelah tiba di Simeulue meninggalkan sebahagian tradisi mereka dan mulai dengan kehidupan baru di Simeulue. Sama halnya dengan komunitas kesukuan yang menetap di pesisir pantai Barat Pulau Simeulue yang hidup dengan pola yang baru yaitu mulai bercocok tanam dan membuka lahan perkebunan.
Pendapat lain dalam tulisan museum sejarah Nias, disejarahkan bahwa nenek moyang masyarakat Simeulue adalah bagian dari Proto Melayu (Manusia Melayu Tua) yang bermigrasi dari Hindia belakang ke Nusantara ini pada gelombang pertama atau sekitar 400-500 SM. Pada tahun 1569, ekspedisi Portugis di bawah pimpinan Francisco Serrão menuliskan dalam tulisan perjalanannya bahwa dilihat dari kepercayaannya suku Simeulue berasal dari daerah daratan Sumatera atau daerah “Laosoloe.”
Nenek moyang yang migrasi dari daerah tersebut pertama kali mendiami daerah yang disebut “Bano” merekalah migrasi pertama yang datang dari daratan Sumatera dan hidup di daratan pulau Simeulue yang biasa masyarakat setempat menyebutnya “Bano.” Selain itu, pendapat yang lain alur kedatangan manusia ke pulau Simeulue, menurut penjelasan Muhammad Afiah dalam tulisan Ramadhan Dandi (2024) penduduk Simeulue asli merupakan keturunan Indocina yang bermigrasi dari Yunan Selatan, Filipina, Malaka, Sumatera, dan sampai ke Simeulue.
Diperkirakan penduduk Simeulue sudah ada lebih dari 2500 tahun yang lalu, mengingat dan mencocokan perawakan, gestur, warna kulit sawo matang, mata sipit, segi peralatan atau perkakas yang dipakai memiliki kesamaan dengan Indocina yang ada di daratan Sumatera, seperti Suku Gayo, Alas, Batak. Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa peradaban manusia yang tinggal di kepulauan Simeulue pertama kali adalah dari Ras Deuturo Melayu (Melayu Muda) yang bermigrasi dari China Selatan.
Pada abad ke-13 (1201-1300) sampai abad ke-14 (1301-1400) ras asli dari daratan Sumatera dan Sulawesi terus mendatangi pulau Simeulue, salah satunya Ras Minang, Ras Batak, Ras Bugis, dan Ras Nias. Seperti Ras Minang dan Batak dapat dilihat dari perawakan, dan bahasa yang dipakai oleh penduduk Simeulue Tengah, Simeulue Timur, Simeulue Cut, Teluk Dalam serta sebahagian daerah Teupah dan Alafan. Sedangkan Ras Nias lebih menetap daerah pesisir Simeulue Barat, Alafan, dan Salang.
Semua ras tersebut akhirnya menetap di Simeulue dan menikahi penduduk pribumi asli Simeulue maka terjadilah percampuran budaya dan tradisi, Ras Deuturo Melayu (Indocina) yang masih ada dibagian daerah Simeulue Barat, Alafan, dan Salang dikarenakan masih terlihat kemiripan perawakan wajah, warna kulit, dan mata sipit.
Sejarah mengenai asal usul kepercayaan animisme dan dinamisme atau generasi nenek moyang Simeulue yang belum beragama Islam dalam catatan K.F.H. van Langen tahun 1881 dalam tulisan H.T. DAMSTE diterbitkan tahun 1916 penduduk Simaloer (Simeulue) terdiri dari dua bagian utama yaitu penduduk asli Simeulue bagian Simaloer, Tapah, dan Lakoen diperkirakan berasal dari suku yang sama yaitu Melayu (Minang), Batak, Aceh, dan campuran dari suku Aborigin, yang menyebar dari daratan yang disebut Bano, dan bagian kedua Sigoeloi, Alafan, dan Salang diyakini berasal dari suku Nias, yang menyebar dari Sikule (Lamame’).
Perjalanan masuknya suku Melayu ke Simeulue tidak dapat dipisahkan dari peran penting jalur perdagangan maritim di wilayah Aceh saat itu. Sebagai bagian dari jaringan perdagangan yang luas di Asia Tenggara, Aceh memiliki posisi strategis sebagai pelabuhan penting yang menghubungkan jalur perdagangan antara India, Tiongkok, dan Timur Tengah. Dengan demikian, Aceh menjadi titik pertemuan budaya dan tempat di mana berbagai suku bangsa bertemu, termasuk suku Melayu (Minangkabau).
Kedatangan suku Melayu ke Simeulue telah terjadi dalam beberapa gelombang migrasi selama berabad-abad, dimulai sejak abad ke-13 (1201-1300) yang dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti perdagangan, pencarian sumber daya alam, atau peristiwa-peristiwa sejarah tertentu. Kedatangan suku Melayu datang didominasi sebagai pedagang, pelaut, imigran, atau pemukim perompak yang mencari peluang kehidupan atau tempat tinggal baru di daerah tertentu.
Kehadiran suku Melayu di Pulau Simeulue berpengaruh besar terhadap kekayaan tradisi dan pola kehidupan budaya dan sosial di wilayah tersebut. Mereka datang dengan membawa tradisi mereka sendiri serta, kepercayaan, bahasa, dan kebiasaan mereka, yang kemudian bercampur dan berinteraksi dengan budaya lokal Simeulue.
Proses ini menyebabkan perkembangan budaya yang unik dan kompleks di Simeulue, yang mencerminkan pluralitas etnis dan warisan budaya yang kaya. Sejarah masuknya suku Melayu ke Simeulue merupakan bagian integral dari cerita panjang perkembangan wilayah itu. Meskipun detailnya mungkin tidak selalu jelas, namun keberadaan suku Melayu di Simeulue telah memberikan kontribusi penting bagi keragaman budaya dan sejarah Simeulue, serta melanjutkan warisan budaya yang beragam di wilayah itu.
Mengenai masuknya suku Batak ke Simeulue melalui dua jalur yaitu pendatang bagian Sumatera Utara yang Migrasi ke perairan Borengan dan Lasengalu serta pendatang Batak Nias yang migrasi ke daerah perairan Lamamek dan Sigulai. Kedatangan suku Batak-Nias yang mungkin terjadi melalui jalur-jalur perdagangan atau pencarian sumber daya alam. Simeulue, dengan posisinya yang strategis sebagai pusat hasil maritim, telah menjadi tujuan atau jalur transit bagi berbagai kelompok etnis yang melakukan perjalanan melalui wilayah itu. Selain itu, ada juga kemungkinan bahwa suku Batak datang ke Simeulue sebagai bagian dari perpindahan penduduk atau pekerja migran yang mencari peluang ekonomi atau keamanan di wilayah baru. Mereka telah bergabung dengan komunitas lokal atau membentuk komunitas mereka sendiri di Simeulue.
Peran penting perdagangan dan interaksi budaya dalam sejarah Simeulue juga dapat memainkan peran dalam masuknya suku Batak ke wilayah tersebut. Kontak antarsuku melalui perdagangan dan pertukaran budaya dapat membuka pintu bagi migrasi dan penyatuan kelompok-kelompok etnis yang berbeda.
Meskipun catatan sejarah tentang masuknya suku Batak ke Simeulue mungkin tidak lengkap, namun keberadaan mereka di wilayah tersebut telah memberikan kontribusi penting bagi keragaman budaya Simeulue. Interaksi antarasuku Batak dengan masyarakat kesukuan Simeulue lainnya, telah melahirkan dan membentuk dinamika budaya yang unik dan kompleks di wilayah Simeulue.
Dengan demikian, jika diurutkan alur kedatangan suku nenek moyang pertama Simeulue yang menganut kepercayaan animisme dan dinamisme berdasarkan beberapa literatur yang disebutkan di atas dimulai dari kedatangan orang Batak kemudian disebut dengan suku Lasali, kedatangan orang Melayu ras Minang yang kemudian disebut suku Dagang, kedatangan orang-orang Nias yang kemudian disebut suku Habu, dan kedatangan orang-orang Sulawesi yang kemudian disebut dengan suku Bolawa. Keempat suku ini dalam tulisan Eka Halsin (1935) menyebutkan bahwa dari kebanyakan suku di Simeulue, keempat suku inilah yang pertama mendiami daratan Simeulue sejak kepercayaan animisme dan dinamisme berkembang di pulau Simaloer. Kepercayaan animisme dan dinamisme ini akhirnya menghilang setelah kedatangan Tengku Khalilullah (Tengku Diujung) ke pulau Simeulue yang membawa ajaran Islam kepada mereka.

0 Komentar