Siimolol – Upaya pelestarian Bahasa Simolol terus digalakkan oleh masyarakat adat di pedesaan Simeulue. Salah satu bentuk konkret dari komitmen ini adalah rutinitas pembinaan dan pengajaran Bahasa Simolol kepada anak-anak, yang dilakukan oleh Rumpun Simolol Bersatu (RSB) setiap malam seusai salat Magrib.
Kegiatan ini telah menjadi tradisi harian yang berlangsung di beberapa meunasah dan rumah warga, terutama di desa-desa di tiga kecamatan penutur bahasa Simolol, Simeulue Tengah, Simeulue Cut, dan Teluk Dalam, dan desa-desa sekitarnya. Anak-anak usia sekolah dasar berkumpul untuk belajar bahasa Simolol melalui berbagai metode seperti permainan bahasa, percakapan, lagu daerah, dan cerita rakyat yang disampaikan langsung oleh para tokoh adat dan pemuda RSB.
Menurut Asludin, S.E., M.Kes, Ketua Rumpun Simolol Bersatu, kegiatan ini tidak hanya bertujuan mengajarkan bahasa ibu, tetapi juga menanamkan nilai-nilai moral dan budaya yang terkandung dalam tutur bahasa Simolol.
“Bahasa adalah identitas dan jiwa masyarakat kita. Bila generasi muda tidak diajarkan dari sekarang, maka kita berisiko kehilangan jati diri. Maka, selepas Magrib, kami manfaatkan waktu berkumpul ini sebagai momen penguatan bahasa dan adat,” ujar Asludin.
Kegiatan ini dipandu oleh para pemuda, tokoh agama, dan orang tua yang peduli akan keberlangsungan budaya lokal. Suasana belajar dibuat menyenangkan agar anak-anak merasa nyaman dan antusias dalam memahami kosakata, tata bahasa, serta ekspresi dalam bahasa Simolol.
Warga desa pun memberikan dukungan penuh. Mereka menyadari pentingnya peran bahasa dalam memperkuat ikatan sosial dan mempertahankan warisan leluhur.
Kegiatan ini menyasar anak-anak usia sekolah dasar dan pra-remaja, dengan pendekatan belajar yang menyenangkan seperti permainan tradisional berbahasa Simolol, mendongeng, lagu daerah, hingga latihan percakapan sehari-hari menggunakan bahasa Simolol.
“Anak-anak adalah pewaris masa depan. Jika mereka tidak kita ajarkan bahasa Simolol sejak dini, maka akan sangat sulit mempertahankannya di masa depan,” ujar Muhsin, S.A.P, salah satu penggerak kegiatan sekaligus Sekretaris Rumpun Simolol Bersatu (RSB).
Program pembinaan ini didorong oleh semangat gotong royong dan keinginan kuat masyarakat untuk menjaga bahasa Simolol tetap hidup di tengah derasnya arus modernisasi dan penggunaan bahasa luar.
Diharapkan, kegiatan ini dapat menjadi model pembelajaran budaya yang dapat diterapkan di desa-desa lain di Simeulue, serta menjadi inspirasi bagi komunitas daerah lain untuk menjaga bahasa daerah masing-masing dari ancaman kepunahan.






0 Komentar