Simolol – Kehadiran Kamus Besar Bahasa Simolol mendapat perhatian dan apresiasi dari berbagai kalangan, termasuk dari kalangan akademisi dan peneliti bahasa. Salah satunya datang dari Andika Ariwibowo, peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang menaruh perhatian besar pada isu pelestarian bahasa daerah di Indonesia.
Dalam tanggapannya, Andika menyampaikan bahwa penerbitan kamus ini adalah bentuk nyata dari kesadaran kolektif penutur asli dalam mempertahankan bahasa ibu mereka dari ancaman kepunahan.
“Saya mengapresiasi upaya masyarakat Simeulue, khususnya para penutur asli Simolol, yang telah berhasil menyusun dan menerbitkan Kamus Besar Bahasa Simolol. Ini adalah bukti bahwa pelestarian bahasa tidak harus menunggu intervensi pemerintah pusat. Inisiatif dari akar rumput seperti ini jauh lebih kuat dan bermakna,” ujarnya.
Menurutnya, di tengah arus globalisasi dan dominasi bahasa nasional maupun internasional, banyak bahasa daerah di Indonesia mengalami penurunan jumlah penutur aktif. Karena itu, langkah dokumentasi dan kodifikasi seperti penerbitan kamus sangat penting untuk mendukung upaya revitalisasi dan transmisi antar-generasi.
Andika juga menyebut bahwa kamus ini tidak hanya bermanfaat bagi penutur lokal, tetapi juga bisa menjadi sumber rujukan akademis bagi peneliti linguistik, antropologi, dan studi kebudayaan.
Penerbitan Kamus Besar Bahasa Simolol sendiri digagas oleh komunitas budaya Rumpun Simolol Bersatu (RSB) dan Simeulue Culture, Language, and Education (Simulation) dan didukung oleh masyarakat Simolol melalui kerja gotong royong, mulai dari pengumpulan kosakata, penyusunan entri, hingga pencetakannya yang dilakukan secara swadaya.
Dengan apresiasi ini, diharapkan lebih banyak pihak, termasuk pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan komunitas adat, turut mendukung upaya pelestarian bahasa Simolol, serta menjadikan kamus tersebut sebagai media edukasi dan penguatan identitas budaya lokal.





0 Komentar