Simolol | Upaya pelestarian bahasa daerah sebagai bagian dari warisan budaya takbenda terus dilakukan melalui pendekatan edukatif dan partisipatif. Salah satu inisiatif nyata dalam konteks tersebut diwujudkan melalui kegiatan Lomba Bercerita dalam Bahasa Simolol yang diselenggarakan oleh Tim Simulations ID (Simeulue Culture, Language, and Educations). Kegiatan ini memperoleh dukungan dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Aceh Wilayah I, yang pada tahun 2025 menetapkan program tersebut sebagai salah satu penerima bantuan pelestarian kebudayaan.
Kegiatan lomba bercerita ini berorientasi pada penguatan identitas kebahasaan dan pewarisan nilai-nilai budaya lokal kepada generasi muda, khususnya anak usia sekolah dasar. Melalui penguatan literasi lisan berbasis bahasa ibu, kegiatan ini diharapkan mampu menjaga keberlangsungan bahasa Simolol di tengah arus modernisasi dan perubahan sosial.
Lomba bercerita bahasa Simolol berhasil dilaksanakan pada 10 Desember 2025 dan bertempat di Gedung Aula Serba Guna SMP Negeri 1 Simeulue Tengah. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung secara tertib, sistematis, dan terkoordinasi dengan baik oleh panitia pelaksana. Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk unsur pendidikan, tokoh adat, serta masyarakat penutur bahasa Simolol.
Peserta lomba merupakan siswa jenjang Sekolah Dasar (SD) yang berasal dari wilayah penutur utama bahasa Simolol. Antusiasme peserta tampak dari kesungguhan mereka dalam menyampaikan cerita rakyat, kisah keseharian, dan narasi sederhana yang disajikan sepenuhnya menggunakan bahasa Simolol. Kondisi ini menunjukkan bahwa bahasa daerah tersebut masih hidup dan digunakan secara aktif dalam ruang sosial masyarakat, terutama di lingkungan keluarga dan pendidikan dasar.
Secara kewilayahan, kegiatan ini melibatkan peserta dari tiga kecamatan utama penutur bahasa Simolol, yakni Kecamatan Simeulue Tengah, Kecamatan Simeulue Cut, dan Kecamatan Teluk Dalam di wilayah Kepulauan Simeulue. Keterlibatan lintas kecamatan ini mencerminkan luasnya sebaran penutur aktif bahasa Simolol sekaligus menegaskan pentingnya kolaborasi antarlembaga dan komunitas dalam upaya pelestarian bahasa daerah.
Kegiatan lomba secara resmi dibuka oleh Ketua Rumpun Simolol Bersatu (RSB), Asludin, S.E., M.Kes. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa bahasa Simolol merupakan bagian integral dari identitas kultural masyarakat Simeulue. Menurutnya, bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai medium pewarisan nilai, sejarah, dan kearifan lokal yang perlu dijaga keberlangsungannya di tengah tantangan globalisasi.
Sebagai tuan rumah kegiatan, Kepala SMP Negeri 1 Simeulue Tengah menyampaikan apresiasi yang tinggi atas terselenggaranya lomba bercerita bahasa Simolol di lingkungan sekolah. Dalam sambutannya, kepala sekolah menegaskan bahwa sekolah memiliki peran strategis sebagai ruang pembelajaran sekaligus ruang kebudayaan. Ia menilai kegiatan ini relevan dengan penguatan karakter peserta didik serta implementasi pembelajaran berbasis kearifan lokal.
Lebih lanjut, kepala sekolah menyampaikan bahwa kegiatan lomba bercerita bahasa daerah merupakan bentuk sinergi antara dunia pendidikan dan pelestarian budaya. Kegiatan ini dinilai mampu menumbuhkan rasa bangga terhadap bahasa ibu, meningkatkan keberanian serta keterampilan berbicara siswa, dan menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal sejak usia dini. Pihak sekolah juga menyatakan kesiapan untuk mendukung kegiatan serupa di masa mendatang.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini dikoordinasikan oleh Tim Simulations ID di bawah kepemimpinan Hasanul Amri, S.Pd., M.Pd., Gr. selaku Ketua Simulations ID, dengan susunan panitia pelaksana: Salfiadis sebagai Ketua Panitia, Deki Rifandi sebagai Bendahara, dan Heris Sukeza sebagai Sekretaris. Seluruh panitia bekerja secara kolaboratif dalam merancang, mengoordinasikan, dan melaksanakan rangkaian kegiatan sehingga tujuan pelestarian bahasa daerah dapat tercapai secara optimal.
Dari perspektif kebudayaan dan pendidikan, lomba bercerita bahasa Simolol ini memiliki nilai strategis sebagai media pembelajaran kontekstual. Kegiatan bercerita mendorong pengembangan kompetensi literasi lisan, sosial, dan emosional siswa, sekaligus memperkuat identitas budaya lokal. Hal ini sejalan dengan kebijakan nasional tentang pelindungan bahasa daerah dan penguatan karakter peserta didik.
Dengan terlaksananya kegiatan ini, Tim Simulations ID berharap tumbuh kesadaran kolektif mengenai pentingnya menjaga dan merawat bahasa daerah sebagai warisan budaya takbenda. Kegiatan ini juga diharapkan menjadi model praktik baik (best practice) pelestarian bahasa daerah yang dapat direplikasi di wilayah lain, baik di Aceh maupun di tingkat nasional.




.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpeg)



.jpg)








.jpg)
0 Komentar